Wall Street kali ini benar-benar ikut turun tangan: Morgan Stanley mengumumkan pada 3 November bahwa mereka telah mengubah saham AS dan obligasi Treasury AS menjadi bentuk tokenisasi menggunakan layanan tokenisasi baru DTCC (DTS), dan menyebut diri sebagai salah satu bank pertama yang terjun ke bidang ini.

Mari lihat angka-angka pentingnya: layanan DTCC baru diluncurkan pada 28 Oktober, dan 20 institusi telah menandatangani kontrak, termasuk JPMorgan Chase, Citi, Bank of America, Fidelity, dan Citadel Securities. DTCC menyatakan bahwa tahap pertama mencakup sekuritas yang memenuhi syarat senilai sekitar US$30 triliun, sementara sekuritas yang dititipkan di DTC bernilai lebih dari US$114 triliun. Token merupakan “kembaran digital” dari sekuritas yang mendasarinya, dipatok 1:1, mempertahankan nomor CUSIP dan hak pemegang aslinya, sementara DTC tetap menjadi pencatat resmi. Sistem ini berjalan di Canton Network dan jaringan privat Besu milik DTCC; Stellar dan Arc milik Circle baru akan menyusul pada 2027.

Jangan terkecoh oleh istilah “tokenisasi”: Morgan Stanley tidak mengungkap saham apa yang dikonversi atau berapa nilainya, dan token tersebut juga belum bisa diperdagangkan secara publik. Rencana Morgan Stanley sendiri untuk memperdagangkan saham tokenisasi baru akan diluncurkan di sistem perdagangan alternatif miliknya pada kuartal pertama 2027. Desember tahun lalu, SEC memberikan surat no-action untuk masa uji coba tiga tahun, bukan aturan resmi.

Namun arahnya sudah jelas: pasar RWA kini bernilai US$39,4 miliar, dengan tokenisasi obligasi Treasury AS saja sudah melampaui US$14,2 miliar. Ketika lembaga kliring Wall Street turun tangan langsung untuk membuat “kembaran digital”, hari ketika saham dan obligasi Treasury dapat diselesaikan 24/7 dan dijadikan agunan kapan saja ternyata lebih dekat daripada yang diperkirakan kebanyakan orang. RWA yang selama bertahun-tahun digaungkan dunia kripto kini diwujudkan oleh keuangan tradisional sendiri dengan memindahkan pembukuannya ke blockchain.#RWA #Morgan Stanley