Gelombang pemilu paruh waktu AS pada 5 November akhirnya usai, membawa perkembangan baru bagi dunia teknologi dan pasar modal.

Goldman Sachs menganalisis bahwa perubahan besar kebijakan yang dikhawatirkan banyak orang justru bisa menjadi katalis. Untuk mencegah kebijakan menjadi kurang menguntungkan di kemudian hari, banyak raksasa teknologi kemungkinan akan memajukan belanja modal mereka ke sekitar 2027. Mereka akan lebih dulu menyelesaikan perizinan yang ada dan membangun pusat data, lalu mengunci kesepakatan.

Mengenai persoalan regulasi yang menjadi perhatian banyak orang, Jefferies mengamati lima negara bagian yang menjadi pusat utama pembangunan pusat data. Meski semuanya memilih gubernur dari Partai Demokrat, analisisnya menilai bahwa para pejabat baru lebih mungkin menetapkan batas kepatuhan daripada langsung melarang pembangunan secara menyeluruh.

Ini menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur AI kemungkinan besar tidak akan langsung terhenti dan membuat pasar anjlok. Namun, kecepatan proses perizinan tentu akan berbeda-beda di tiap negara bagian.

Harga saham raksasa cloud besar seperti Microsoft dan Google cukup tangguh, tetapi operator komputasi berperforma tinggi dan pusat data independen serta saham semikonduktor menghadapi tekanan yang cukup besar. Ini menunjukkan bahwa investor sedang menghitung ulang dan lebih selektif dalam menilai risiko.

Lembaga seperti Danske dan BondBloxx juga menyebutkan bahwa mekanisme checks and balances di Kongres dapat menekan risiko defisit anggaran, yang justru menjadi kabar baik bagi pasar saham dan obligasi. Jika dikaitkan dengan jendela waktu 2027 yang disebut Goldman Sachs, fokus utama berikutnya dalam rantai industri AI adalah siapa yang mampu bergerak lebih cepat dan merealisasikan rencana lebih dulu.

$GOOGL