Semakin lama, semakin terasa bahwa kemampuan menjaga kekayaan adalah kemampuan menghasilkan uang tingkat tertinggi.
Baru saja melihat sebuah kisah di video pendek.
Tokoh utamanya adalah model generasi pertama era 90-an, orang Shanghai, dan sekarang sudah berusia lima puluhan.
Dulu, ia mendapatkan modal pertamanya dari menjadi model, lalu menikah dengan pria Hong Kong dan memperoleh status penduduk Hong Kong. Belakangan, mereka menetap di Shanghai dan membuka beberapa restoran masakan rumahan. Setelah tiga puluh tahun berjuang membangun usaha, mereka berhasil mengumpulkan kekayaan yang sangat besar.
Kemudian, karena pandemi, bisnis restoran menurun. Ia ditipu untuk berinvestasi oleh seorang teman yang sudah dikenalnya sejak kecil. Selama empat tahun, ia ditipu hingga total uang tunai 30 juta yuan. Seluruh hasil kerja keras seumur hidupnya langsung lenyap.
Yang paling penting, penipuan ini nyaris tak membutuhkan keahlian khusus—murni menipu. Penipu itu berkata, “Aku punya proyek dengan imbal hasil tinggi. Berikan uangmu kepadaku, nanti kubayar bunga sekian.” Setelah pertama kali merasakan hasilnya, ia langsung mempertaruhkan semua uangnya. Pada akhirnya, ia bahkan tak lagi mengambil keuntungan, terus membiarkan uangnya “beranak-pinak” di sana. Saat butuh uang, ia meminta sedikit kepada si penipu. Begitu rantai pendanaan si penipu putus dan ia ditangkap, uangnya sudah habis dihamburkan. Semua modalnya pun lenyap.
Dari cara tokoh ini berbicara, terlihat bahwa ia punya banyak pengalaman hidup, pemikirannya logis dan sistematis, serta sangat waspada terhadap sifat manusia. Ia juga memiliki kecerdikan khas seorang pebisnis. Bahkan, pada akhirnya ia memang berhasil mengirim si penipu ke penjara dengan usahanya sendiri. Ini menunjukkan bahwa tingkat pemahamannya sangat tinggi. Namun, ia tetap tak bisa menghindari jebakan berupa penipuan oleh orang yang dikenal, keserakahan dalam hati, dan keinginan mendapatkan uang tanpa bersusah payah.
Setelah menontonnya, rasanya sungguh menyedihkan.
Sekaligus, kisah ini semakin menguatkan tiga prinsipku sebagai orang biasa yang berusaha bertahan di tengah kesulitan hidup:
Pertama, tidak melakukan investasi apa pun. Proyek apa pun tidak akan kuikuti, siapa pun yang mengajakku. Kalau punya uang, simpan di deposito berjangka. Kalau tidak punya uang, bayar iuran jaminan sosial dan beli asuransi kesehatan.
Kedua, jangan bermimpi mendapatkan uang cepat, mudah, atau tanpa susah payah. Lebih baik jujur saja mencari uang dengan kerja keras. Kalau punya kemampuan, jalankan usaha kecil dengan modal dan risiko rendah. Kalau tidak, bekerja dengan baik. Uang hasil kerja keras yang didapat sedikit demi sedikit adalah uang yang paling nikmat.
Ketiga, terus menjadi orang yang canggung bersosialisasi. Lebih banyak waktu bersama keluarga, jangan berteman dengan penipu, dan kalau tak bisa memastikan apakah seseorang penipu atau bukan, kurangi saja bertemu orang.
Ada tambahan lain? Akan kucatat semuanya.
Baru saja melihat sebuah kisah di video pendek.
Tokoh utamanya adalah model generasi pertama era 90-an, orang Shanghai, dan sekarang sudah berusia lima puluhan.
Dulu, ia mendapatkan modal pertamanya dari menjadi model, lalu menikah dengan pria Hong Kong dan memperoleh status penduduk Hong Kong. Belakangan, mereka menetap di Shanghai dan membuka beberapa restoran masakan rumahan. Setelah tiga puluh tahun berjuang membangun usaha, mereka berhasil mengumpulkan kekayaan yang sangat besar.
Kemudian, karena pandemi, bisnis restoran menurun. Ia ditipu untuk berinvestasi oleh seorang teman yang sudah dikenalnya sejak kecil. Selama empat tahun, ia ditipu hingga total uang tunai 30 juta yuan. Seluruh hasil kerja keras seumur hidupnya langsung lenyap.
Yang paling penting, penipuan ini nyaris tak membutuhkan keahlian khusus—murni menipu. Penipu itu berkata, “Aku punya proyek dengan imbal hasil tinggi. Berikan uangmu kepadaku, nanti kubayar bunga sekian.” Setelah pertama kali merasakan hasilnya, ia langsung mempertaruhkan semua uangnya. Pada akhirnya, ia bahkan tak lagi mengambil keuntungan, terus membiarkan uangnya “beranak-pinak” di sana. Saat butuh uang, ia meminta sedikit kepada si penipu. Begitu rantai pendanaan si penipu putus dan ia ditangkap, uangnya sudah habis dihamburkan. Semua modalnya pun lenyap.
Dari cara tokoh ini berbicara, terlihat bahwa ia punya banyak pengalaman hidup, pemikirannya logis dan sistematis, serta sangat waspada terhadap sifat manusia. Ia juga memiliki kecerdikan khas seorang pebisnis. Bahkan, pada akhirnya ia memang berhasil mengirim si penipu ke penjara dengan usahanya sendiri. Ini menunjukkan bahwa tingkat pemahamannya sangat tinggi. Namun, ia tetap tak bisa menghindari jebakan berupa penipuan oleh orang yang dikenal, keserakahan dalam hati, dan keinginan mendapatkan uang tanpa bersusah payah.
Setelah menontonnya, rasanya sungguh menyedihkan.
Sekaligus, kisah ini semakin menguatkan tiga prinsipku sebagai orang biasa yang berusaha bertahan di tengah kesulitan hidup:
Pertama, tidak melakukan investasi apa pun. Proyek apa pun tidak akan kuikuti, siapa pun yang mengajakku. Kalau punya uang, simpan di deposito berjangka. Kalau tidak punya uang, bayar iuran jaminan sosial dan beli asuransi kesehatan.
Kedua, jangan bermimpi mendapatkan uang cepat, mudah, atau tanpa susah payah. Lebih baik jujur saja mencari uang dengan kerja keras. Kalau punya kemampuan, jalankan usaha kecil dengan modal dan risiko rendah. Kalau tidak, bekerja dengan baik. Uang hasil kerja keras yang didapat sedikit demi sedikit adalah uang yang paling nikmat.
Ketiga, terus menjadi orang yang canggung bersosialisasi. Lebih banyak waktu bersama keluarga, jangan berteman dengan penipu, dan kalau tak bisa memastikan apakah seseorang penipu atau bukan, kurangi saja bertemu orang.
Ada tambahan lain? Akan kucatat semuanya.