Mereka yang sebulan lalu berteriak "musim altcoin telah tiba" sekarang semuanya bungkam.
Banyak altcoin sudah turun kembali ke level sebelum 19 Agustus—narasi "rotasi sektor" saat itu dihantam telak oleh kenyataan.
Tapi ada satu hal yang ingin saya katakan: altcoin masih bisa dimainkan, hanya saja pilihan aset yang layak dimainkan sudah jauh menyusut.
Dulu, "beli saja tanpa pikir panjang, lalu tunggu momentum". Sekarang, "cermati datanya dan hanya pilih aset yang menghasilkan arus kas".
Bagaimana cara menyaringnya? Saya punya kerangka tiga langkah yang cukup untuk membantu Anda bertahan di pasar bullish berikutnya:
Langkah pertama: periksa pendapatan—apakah proyek ini benar-benar menghasilkan keuntungan?
Bukan TVL, bukan pengguna aktif harian, bukan jumlah pengikut di Twitter.
Perhatikan uang sungguhan.
Cek pendapatan protokol di DefiLlama Revenue
Cek P/S (rasio harga terhadap penjualan) dan P/E (rasio harga terhadap laba) di Token Terminal
Periksa mekanisme alokasi biaya di whitepaper atau laporan keuangan proyek
Data yang bisa ditemukan: Hyperliquid (HYPE), Uniswap (UNI), Aave, Ethena, Pendle… semuanya memiliki pendapatan on-chain yang dapat diverifikasi.
Kalau datanya tidak bisa ditemukan, atau pendapatannya bergantung pada siklus “terbitkan token baru → private sale → listing di bursa → jual besar-besaran”—langsung lewati saja.
Patokan ambang batas: pendapatan tahunan > 10 juta dolar AS baru bisa dibilang “bukan proyek kecil-kecilan”. Kalau di bawah angka ini, berarti sektor tersebut belum terbukti berhasil atau pangsa pasarnya masih terlalu kecil.
Langkah kedua: periksa buyback—berapa banyak keuntungan yang dikembalikan untuk token?
Pendapatan hanyalah titik awal. Pertanyaan utamanya: berapa persen yang digunakan tim proyek untuk membeli kembali token mereka di pasar sekunder?
Ada dua hal yang perlu dihitung:
Persentase buyback: berapa persen pendapatan yang digunakan untuk buyback? (30%? 50%? 100%?)
Nilai buyback harian / kapitalisasi pasar beredar = intensitas buyback
Contoh:
Sebuah proyek menghasilkan pendapatan 500 ribu per hari dan menggunakan 40% untuk buyback = buyback 200 ribu per hari
Kapitalisasi pasar beredar 200 juta → buyback harian sebesar 0,01%
Tingkat buyback tahunan 3,65% → nyaris memenuhi ambang batas (kalau tingkat inflasi lebih tinggi dari angka ini, dampaknya negatif)
Ambang batas: tingkat buyback tahunan > tingkat inflasi token (unlock + penerbitan token baru). Jika tidak, buyback tak mampu mengimbangi dilusi dan semuanya sia-sia.
Langkah ketiga: periksa burn—ke mana token hasil buyback pergi?
Ini langkah yang paling mudah diabaikan, sekaligus paling ampuh membedakan “buyback sungguhan” dari “aksi pura-pura”.
Ada dua cara:
✅ Dikirim ke alamat burn: mengurangi suplai secara permanen; buyback = deflasi, langsung menguntungkan pemegang token
❌ Token buyback disimpan di suatu alamat: terlihat seperti buyback, padahal sebenarnya “kas perusahaan” yang bisa dikeluarkan kapan saja untuk membanjiri pasar
Contoh paling buruk: Arbitrum (ARB). Memang benar, timnya menggunakan pendapatan untuk buyback, tetapi token hasil buyback disimpan di alamat kas dan tidak dibakar. Ini bukan deflasi, melainkan “masalah kepercayaan”—kita tidak pernah tahu kapan tim akan memutuskan untuk menggunakan token-token tersebut.
Contoh positif: BNB (pembakaran triwulanan), HYPE (sebagian pendapatan digunakan untuk pembakaran), MKR (mekanisme buyback + burn).
Kesimpulan: tiga kriteria memilih altcoin
Aspek Yang diperiksa Ambang batasPendapatan Pendapatan yang dapat diverifikasi on-chain Pendapatan tahunan > $10MBuyback Persentase pendapatan yang digunakan untuk buyback token Tingkat buyback tahunan > tingkat inflasiBurn Apakah token dibakar secara permanen Dikirim ke alamat burn > disimpan di kas
Proyek yang memenuhi ketiga kriteria layak untuk diteliti lebih lanjut.
Kalau hanya memenuhi satu atau bahkan tidak satu pun, jangan tergoda oleh narasi sebagus apa pun.
Bull run berikutnya bukan “musim altcoin”, melainkan “musim altcoin berkualitas”.
Dana hanya akan mengalir ke aset yang punya arus kas, buyback, dan burn.