Korea Utara adalah negara yang cukup ajaib. «Bisnis keluarga» yang dijalankan tiga generasi pemimpinnya makin lama makin besar.
Pada era Kim Il-sung, jalurnya adalah cara klasik «pinjam lalu tidak usah bayar». Pada 1970-an, mereka meminjam banyak uang dari bank-bank Barat serta negara-negara seperti Jepang dan Swedia untuk membeli mesin dan peralatan, lalu langsung gagal bayar. Kasus paling terkenal adalah 1.000 Volvo dari Swedia. Setelah dikirim pada 1974, utangnya nyaris tidak pernah dibayar. Sampai sekarang, jumlah pokok beserta bunganya sudah membengkak hingga beberapa ratus juta euro. Swedia masih mengirim tagihan setiap tahun. Korea Utara sesekali mengakui utangnya sekadar formalitas, tetapi tetap tidak mengeluarkan uang. Di jalanan Pyongyang, Volvo-Volvo tua itu masih sesekali terlihat melintas.
Pada era Kim Jong-il, «pemalsuan» langsung dijadikan industri tingkat nasional. Bureau 39 (Kantor 39) secara khusus mengelola kas valas rahasia sang pemimpin. Di bawahnya, mereka memproduksi dolar palsu bermutu sangat tinggi (supernotes), yang kualitasnya begitu bagus sampai-sampai Amerika Serikat sendiri dibuat pusing. Konon, beberapa detailnya bahkan lebih teliti daripada uang asli. Mereka juga memproduksi rokok palsu dan obat palsu dalam jumlah besar, lalu terlibat dalam bisnis narkoba (opium, metamfetamin) dan penipuan asuransi. Barang-barang itu dicuci melalui jaringan diplomat, perusahaan pelayaran, dan mafia. Generasi ini bisa dibilang berhasil mengembangkan pemalsuan tradisional hingga skala industri.
Pada era Kim Jong-un, mereka langsung naik kelas ke era digital. Lazarus Group (serta cabang-cabang yang muncul belakangan, seperti TraderTraitor) berevolusi dari aksi peretasan Sony pada masa awal hingga kini menyasar bursa mata uang kripto. Dalam satu serangan, mereka bisa menggasak miliaran dolar. Belakangan, FBI bahkan menuding mereka melakukan pencurian besar-besaran sekelas insiden Binance. Mereka juga mengirim banyak pekerja TI untuk bekerja jarak jauh di perusahaan-perusahaan Barat dengan identitas palsu, lalu sebagian besar gajinya dikirim pulang. Skalanya kecil berupa penyamaran sebagai pekerja jarak jauh; skala besarnya adalah menguras kas kripto milik orang lain. Uangnya pada dasarnya dipakai untuk membiayai program nuklir dan misil.
Logika tiga generasi ini berkesinambungan: ketika perdagangan dan pinjaman yang sah tidak bisa menghasilkan devisa keras, mesin negara dikerahkan untuk menjalankan «bisnis abu-abu/hitam berprofit tinggi». Dari tidak membayar utang, mencetak uang palsu, dan membuat rokok palsu di dunia fisik, mereka berevolusi ke peretasan dan alih daya jarak jauh di dunia virtual. Caranya mengikuti perkembangan zaman, skalanya pun makin besar. Orang luar melihatnya sebagai sesuatu yang «ajaib»; bagi mereka yang di dalam, mungkin ini hanya dianggap sebagai cara biasa untuk menghasilkan devisa.
Pada era Kim Il-sung, jalurnya adalah cara klasik «pinjam lalu tidak usah bayar». Pada 1970-an, mereka meminjam banyak uang dari bank-bank Barat serta negara-negara seperti Jepang dan Swedia untuk membeli mesin dan peralatan, lalu langsung gagal bayar. Kasus paling terkenal adalah 1.000 Volvo dari Swedia. Setelah dikirim pada 1974, utangnya nyaris tidak pernah dibayar. Sampai sekarang, jumlah pokok beserta bunganya sudah membengkak hingga beberapa ratus juta euro. Swedia masih mengirim tagihan setiap tahun. Korea Utara sesekali mengakui utangnya sekadar formalitas, tetapi tetap tidak mengeluarkan uang. Di jalanan Pyongyang, Volvo-Volvo tua itu masih sesekali terlihat melintas.
Pada era Kim Jong-il, «pemalsuan» langsung dijadikan industri tingkat nasional. Bureau 39 (Kantor 39) secara khusus mengelola kas valas rahasia sang pemimpin. Di bawahnya, mereka memproduksi dolar palsu bermutu sangat tinggi (supernotes), yang kualitasnya begitu bagus sampai-sampai Amerika Serikat sendiri dibuat pusing. Konon, beberapa detailnya bahkan lebih teliti daripada uang asli. Mereka juga memproduksi rokok palsu dan obat palsu dalam jumlah besar, lalu terlibat dalam bisnis narkoba (opium, metamfetamin) dan penipuan asuransi. Barang-barang itu dicuci melalui jaringan diplomat, perusahaan pelayaran, dan mafia. Generasi ini bisa dibilang berhasil mengembangkan pemalsuan tradisional hingga skala industri.
Pada era Kim Jong-un, mereka langsung naik kelas ke era digital. Lazarus Group (serta cabang-cabang yang muncul belakangan, seperti TraderTraitor) berevolusi dari aksi peretasan Sony pada masa awal hingga kini menyasar bursa mata uang kripto. Dalam satu serangan, mereka bisa menggasak miliaran dolar. Belakangan, FBI bahkan menuding mereka melakukan pencurian besar-besaran sekelas insiden Binance. Mereka juga mengirim banyak pekerja TI untuk bekerja jarak jauh di perusahaan-perusahaan Barat dengan identitas palsu, lalu sebagian besar gajinya dikirim pulang. Skalanya kecil berupa penyamaran sebagai pekerja jarak jauh; skala besarnya adalah menguras kas kripto milik orang lain. Uangnya pada dasarnya dipakai untuk membiayai program nuklir dan misil.
Logika tiga generasi ini berkesinambungan: ketika perdagangan dan pinjaman yang sah tidak bisa menghasilkan devisa keras, mesin negara dikerahkan untuk menjalankan «bisnis abu-abu/hitam berprofit tinggi». Dari tidak membayar utang, mencetak uang palsu, dan membuat rokok palsu di dunia fisik, mereka berevolusi ke peretasan dan alih daya jarak jauh di dunia virtual. Caranya mengikuti perkembangan zaman, skalanya pun makin besar. Orang luar melihatnya sebagai sesuatu yang «ajaib»; bagi mereka yang di dalam, mungkin ini hanya dianggap sebagai cara biasa untuk menghasilkan devisa.