Duan Yongping: Sebelum membeli saham Apple, ia lebih dulu memahami alasan pengguna bertahan

Duan Yongping membeli saham Apple pada 2011 bukan karena ponselnya dilengkapi fitur populer baru. Belakangan ia berkata bahwa ia sendiri berkecimpung di industri ini, dan arah yang ditempuh Apple—membangun platform dan mengembangkan perangkat lunak—sudah sangat jelas baginya. Ia tidak sekadar menebak-nebak masa depan, melainkan melihat apa yang sedang terjadi berdasarkan bisnis yang pernah ia jalankan.​

Saat melihat Apple, ia juga sangat memperhatikan sesuatu yang tidak terlalu tampak seperti metrik keuangan: orientasi terhadap pengguna. Apakah perusahaan ingin membuat produk yang bagus, peduli pada pengalaman jangka panjang, dan tidak membuat sesuatu yang tak mampu memberikan nilai cukup bagi pengguna hanya karena suatu konsep sedang populer.​

Pandangan ini juga mengubah cara melihat persaingan. Pesaing punya satu fitur tambahan atau harga sedikit lebih murah, tentu penting; tetapi kita juga harus terus bertanya: mengapa pengguna bertahan, dan apa yang mereka korbankan saat beralih? Spesifikasi bisa disamai, tetapi kebiasaan penggunaan dan hubungan dengan platform belum tentu ikut berubah.

Kedengarannya masuk akal. Namun, detail selanjutnya lebih menarik: Apple juga bisa membuat kesalahan, dan ia menyaksikan sendiri kesalahan itu.

Ponsel dengan layar besar adalah contohnya.

Saat itu, Duan Yongping yakin pengguna pasti membutuhkan layar besar, karena produk layar besar dari para pesaing sudah muncul. Namun, Apple tak kunjung meluncurkannya. Ia berkata bahwa dirinya tahu hal ini akan terjadi, hanya saja tak menyangka harus menunggu tiga tahun. Ia langsung menyebutnya sebagai salah satu kesalahan besar yang dilakukan Cook.

Kalimat ini sangat penting. Memahami sebuah perusahaan bukan berarti menulis surat jaminan bahwa perusahaan itu “tidak akan pernah salah”. Pengalaman di industri membuatnya melihat kebutuhan pengguna, tetapi tidak membuatnya membela setiap keputusan Apple. Jika perusahaan tidak melakukannya, ia mengakui bahwa mereka tidak melakukannya; jika salah, ia mengatakan bahwa itu salah.

Lalu apa gunanya budaya perusahaan?

Jawaban Duan Yongping adalah bahwa hal terpenting dari budaya yang baik ialah pada akhirnya perusahaan akan kembali ke jalan yang benar. Dalam hati perusahaan harus ada “Bintang Utara”, yang menjadi penunjuk arah agar perusahaan tahu apa yang seharusnya dilakukan, bukan sekadar mengejar bisnis di depan mata. Belakangan, Apple tetap meluncurkan ponsel dengan layar besar.

Jadi, “memegang saham untuk jangka panjang” bukan berarti menutup mata. Justru yang benar-benar menopang keputusan untuk tetap memegangnya mungkin adalah terus membuka mata: apakah produk terus menciptakan nilai bagi pengguna, apakah perusahaan memperbaiki diri setelah melakukan kesalahan, dan apakah penilaian awal masih berlaku.

Inilah juga perbedaan antara kasus Apple dan sekadar “memegang saham tanpa melakukan apa-apa”. Yang pertama memiliki serangkaian hal yang terus diperiksa, sedangkan yang kedua terkadang hanya menyisakan slogan tentang waktu.

Tentu saja, pemahaman Duan Yongping memiliki latar belakangnya sendiri. Ia pernah mengembangkan produk dan berkecimpung di industri. Hal-hal yang bisa ia lihat bukan berarti orang lain juga bisa melihatnya hanya dengan membeli saham Apple. Dalam wawancara yang sama, ia membahas harga Apple pada 2025 dan secara eksplisit mengatakan “tidak murah”. Pengalaman masa lalu tidak bisa diringkas menjadi rekomendasi untuk membeli hari ini.

Memahami Apple bukan berarti menganggap Apple tidak pernah salah. Pemahaman yang sesungguhnya juga mencakup bagaimana Apple melakukan kesalahan dan memperbaikinya.