Munger: Membeli di titik terendah, tetapi membagi pujian
Pada Februari 2009, pasar masih diliputi kepanikan. Daily Journal melakukan satu hal: mengalihkan sebagian uang tunai yang semula ditempatkan dalam obligasi pemerintah jangka pendek untuk membeli saham biasa dua perusahaan publik dan sebagian obligasi perusahaan ketiga.

Dalam penjelasan yang kemudian disampaikan perusahaan kepada Komisi Sekuritas dan Bursa AS, istilah yang digunakan adalah “penjualan yang nyaris panik”. Uang tunai yang ditempatkan dalam obligasi pemerintah itu hanya menghasilkan sedikit bunga. Dalam memilih saham, dewan direksi mengandalkan penilaian dan saran dari ketua dewan Charlie Munger dan wakil ketua J. P. Guerin.
Kisah ini mudah diceritakan sebagai cerita tentang membeli di titik terendah dengan sangat tepat. Waktunya tampak sempurna, hasilnya kemudian juga mengesankan, dan tokoh utamanya adalah Munger. Namun, yang paling patut diperhatikan justru bahwa Munger tidak mau mengakui seluruh pujian untuk dirinya sendiri.
Dalam rapat pemegang saham Daily Journal pada 2016, ia membahas investasi ini: membeli di titik terendah memang ada unsur keberuntungan; tetapi perusahaan sudah menyiapkan uang lebih awal bukan karena mengandalkan keberuntungan, dan bersedia bertindak saat orang lain merasa takut.
Dalam satu kalimat, ia memisahkan dua hal.
Titik terendah adalah soal keberuntungan. Hari paling menakutkan dalam krisis hanya terlihat jelas setelah semuanya berlalu. Saat itu tak ada lonceng peringatan, tak ada pemberitahuan bahwa “hari ini adalah titik terendah”.
Mampu bertindak, itu soal persiapan.
Sebelum itu, Daily Journal menyimpan uang tunainya dalam obligasi pemerintah, sehingga tampak seolah-olah tidak melakukan apa-apa. Tak ada kepemilikan saham yang spektakuler, dan mereka juga tidak menangkap setiap pantulan pasar. Namun, justru karena “tidak melakukan banyak hal” itulah mereka masih punya pilihan saat kepanikan datang. Ketika orang lain terpaksa menjual, mereka tak perlu lebih dulu membereskan masalah mereka sendiri.
Ada satu detail lain yang mudah terlewat: Daily Journal tidak berpura-pura bahwa risiko itu tidak ada. Dalam keterangannya kepada SEC, tertulis jelas bahwa investasi mereka terkonsentrasi pada tiga perusahaan Fortune 200; penurunan tajam nilai pasar satu atau beberapa di antaranya belum tentu dapat diimbangi oleh investasi lainnya, sehingga ekuitas pemegang saham bisa turun drastis.
Jadi, ini bukan kisah heroik tentang “menebak dengan tepat lalu berinvestasi besar-besaran”. Seberapa bagus pun hasil investasi terkonsentrasi, risikonya tetap ada. Risiko itu hanya tersamarkan oleh kenaikan harga setelahnya.

Yang benar-benar patut direnungkan adalah masa panjang sebelum mereka bertindak. Apakah uang tunai mencukupi, apakah mereka memahami apa yang dibeli, dan apakah mereka bisa bertahan tanpa terpaksa bertindak saat harga turun. Jika baru mencoba mengumpulkan keberanian ketika berita dipenuhi kabar buruk, biasanya sudah terlambat.
Investasi Munger itu tentu melibatkan kemampuan dan penilaian yang baik. Namun, ia juga memberi ruang bagi keberuntungan. Dengan begitu, pelajarannya justru lebih jelas: jangan meniru titik terendah yang mustahil direplikasi; tirulah kondisi yang bisa dipersiapkan.
Titik terendah serahkan kepada keberuntungan. Mampu bertindak atau tidak, serahkan kepada persiapan.
