Adik perempuan Kim Jong-un turun tangan langsung! Korea Utara secara terbuka membantah keterkaitannya dengan kasus Binance senilai 6,3 miliar dolar AS
Kali ini, situasinya agak berbeda.
Pada 3 November, media resmi Korea Utara, KCNA, menerbitkan pernyataan Kim Yo-jong. Ia menanggapi langsung tuduhan FBI AS sebelumnya terkait pencurian aset kripto dalam jumlah besar dari Binance. Ia menyebut pernyataan pihak AS sebagai “omong kosong” dan menyebutnya sebagai “provokasi politik serius” terhadap Korea Utara.
Masalah ini bermula pada 31 Oktober, ketika FBI mengeluarkan pengumuman yang menuding Korea Utara bertanggung jawab atas pencurian aset virtual Binance senilai lebih dari 6 miliar dolar AS, dan mengaitkan operasi siber terkait dengan TraderTraitor.
Sebelumnya, lembaga keamanan blockchain TRM Labs memperkirakan kerugian sekitar 6,36 miliar dolar AS.
Kim Yo-jong juga menyinggung insiden Bybit tahun lalu yang mengguncang industri. Saat itu, aset kripto senilai sekitar 1,5 miliar dolar AS dicuri, dan pihak AS juga menunjuk Korea Utara sebagai pihak yang bertanggung jawab.
Yang lebih penting, tanggapan kali ini bukan pernyataan biasa dari kementerian luar negeri, melainkan pernyataan terbuka langsung dari adik perempuan Kim Jong-un. Ia bahkan balik bertanya kepada AS: siapa yang pada akhirnya akan mendapatkan aset kripto yang berhasil dipulihkan? Jawabannya mungkin bisa memberi petunjuk tentang pihak di balik insiden tersebut.
Tentu saja, bantahan Korea Utara tidak serta-merta membatalkan kesimpulan investigasi FBI. Tuduhan FBI juga perlu ditelaah lebih lanjut dengan mempertimbangkan bukti teknis yang tersedia untuk umum dan penelusuran aliran dana.
Namun, kasus pencurian aset kripto kini telah berkembang dari penelusuran di blockchain menjadi konfrontasi terbuka di tingkat negara.
Ketika mata uang kripto menjadi bagian penting dari pergerakan dana global, topik ini sudah bukan sekadar soal pasar keuangan, tetapi juga menjadi bagian dari keamanan siber internasional dan persaingan geopolitik.
Kali ini, situasinya agak berbeda.
Pada 3 November, media resmi Korea Utara, KCNA, menerbitkan pernyataan Kim Yo-jong. Ia menanggapi langsung tuduhan FBI AS sebelumnya terkait pencurian aset kripto dalam jumlah besar dari Binance. Ia menyebut pernyataan pihak AS sebagai “omong kosong” dan menyebutnya sebagai “provokasi politik serius” terhadap Korea Utara.
Masalah ini bermula pada 31 Oktober, ketika FBI mengeluarkan pengumuman yang menuding Korea Utara bertanggung jawab atas pencurian aset virtual Binance senilai lebih dari 6 miliar dolar AS, dan mengaitkan operasi siber terkait dengan TraderTraitor.
Sebelumnya, lembaga keamanan blockchain TRM Labs memperkirakan kerugian sekitar 6,36 miliar dolar AS.
Kim Yo-jong juga menyinggung insiden Bybit tahun lalu yang mengguncang industri. Saat itu, aset kripto senilai sekitar 1,5 miliar dolar AS dicuri, dan pihak AS juga menunjuk Korea Utara sebagai pihak yang bertanggung jawab.
Yang lebih penting, tanggapan kali ini bukan pernyataan biasa dari kementerian luar negeri, melainkan pernyataan terbuka langsung dari adik perempuan Kim Jong-un. Ia bahkan balik bertanya kepada AS: siapa yang pada akhirnya akan mendapatkan aset kripto yang berhasil dipulihkan? Jawabannya mungkin bisa memberi petunjuk tentang pihak di balik insiden tersebut.
Tentu saja, bantahan Korea Utara tidak serta-merta membatalkan kesimpulan investigasi FBI. Tuduhan FBI juga perlu ditelaah lebih lanjut dengan mempertimbangkan bukti teknis yang tersedia untuk umum dan penelusuran aliran dana.
Namun, kasus pencurian aset kripto kini telah berkembang dari penelusuran di blockchain menjadi konfrontasi terbuka di tingkat negara.
Ketika mata uang kripto menjadi bagian penting dari pergerakan dana global, topik ini sudah bukan sekadar soal pasar keuangan, tetapi juga menjadi bagian dari keamanan siber internasional dan persaingan geopolitik.

