【Apa yang dikenang orang-orang dari Akademisi Yuan Longping?】
Seorang siswa sekolah dasar pernah bertemu Akademisi Yuan Longping saat bersekolah, bahkan sempat berbincang dengannya.
Saat itu musim panas tahun 1997. Siswa tersebut bersekolah di SD Afiliasi Universitas Pertanian Shenyang. Yuan datang ke Shenyang untuk urusan dinas dan diundang untuk memberikan ceramah kepada para dosen dan mahasiswa universitas. Sejumlah siswa SD afiliasi juga mengikuti ceramah tersebut.
Saat itu, Yuan berusia lebih dari enam puluh tahun. Tubuhnya tegap, dahinya sedikit botak, tetapi gerak-geriknya lincah. Karena itu, selama bertahun-tahun setelahnya, dalam ingatan siswa tersebut, Yuan selalu terbayang sebagai pria paruh baya yang sedikit botak.
Ceramah hari itu berlangsung lama. Isinya terlalu sulit dipahami bagi para siswa sekolah dasar itu, bahkan terasa agak membosankan. Yuan barangkali melihat sekelompok siswa yang mengantuk di bawah panggung. Maka, pada sesi tanya jawab setelah ceramah, ia berinisiatif mempersilakan anak-anak mengajukan pertanyaan.
Pimpinan sekolah segera memilih siswa yang duduk di barisan pertama dan juga merupakan pengurus inti regu besar Pionir Muda. Mendapat kesempatan bertanya yang datang tiba-tiba, ia sempat kebingungan. Namun, karena sejak kecil pemberani dan doyan makan, tak lama kemudian ia menemukan sebuah pertanyaan yang terdengar agak kekanak-kanakan. Sambil memegang mikrofon, ia bertanya kepada Yuan, “Kakek Yuan, apakah beras hibrida Anda enak?”
Belum selesai ia berbicara, ruangan pun dipenuhi gelak tawa. Namun, Yuan menjawabnya dengan wajah serius, “Pertanyaan ini sangat bagus. Saya bisa memberi tahu teman kecil ini bahwa beras hibrida adalah beras indica. Rasanya tidak seenak beras japonica yang disukai orang-orang di utara. Namun, hasil panen beras hibrida jenis indica tinggi sehingga bisa membuat orang kenyang.
Kalian bisa pulang dan bertanya kepada kakek-nenek kalian. Orang-orang yang sudah berumur tahu rasanya kelaparan.
Masalah hasil produksi pangan adalah masalah besar. Hanya dengan menyelesaikannya, kita bisa memastikan semua orang di Tiongkok kenyang.
Setelah kebutuhan untuk kenyang terpenuhi, barulah kita bisa memikirkan soal makan enak. Namun, menurut saya, sepanjang hidup saya, yang bisa saya lakukan hanyalah berupaya menyelesaikan masalah agar orang-orang bisa kenyang. Adapun soal membuat orang-orang Tiongkok bisa makan enak, itu adalah tugas yang kami wariskan kepada kalian, generasi berikutnya.”
Saat itu, ia belum memahami makna mendalam dari kata-kata tersebut. Namun, ia mencatatnya di buku kecil yang selalu dibawanya.
Beberapa tahun lalu, keluarganya pindah rumah dan secara kebetulan menemukan buku itu. Ia pun membaca kembali kata-kata tersebut.
Di balik kata-kata itu terdapat sikap seorang ilmuwan senior yang teliti dan rasa tanggung jawab yang kuat. Saat seorang siswa sekolah dasar mengajukan pertanyaan yang agak kekanak-kanakan, ia tidak menjawabnya dengan asal-asalan, melainkan menjawab dengan sungguh-sungguh. Ia juga memanfaatkan kesempatan itu untuk membantu generasi muda memahami tanggung jawab yang mereka emban terhadap negara dan masyarakat.
Hari ini, penghormatan terbaik yang bisa kita berikan kepada sang profesor adalah berusaha agar diri kita sendiri, orang lain, dan seluruh rakyat Tiongkok dapat makan lebih enak dan hidup lebih baik.
Semoga sang profesor beristirahat dengan tenang!
Seorang siswa sekolah dasar pernah bertemu Akademisi Yuan Longping saat bersekolah, bahkan sempat berbincang dengannya.
Saat itu musim panas tahun 1997. Siswa tersebut bersekolah di SD Afiliasi Universitas Pertanian Shenyang. Yuan datang ke Shenyang untuk urusan dinas dan diundang untuk memberikan ceramah kepada para dosen dan mahasiswa universitas. Sejumlah siswa SD afiliasi juga mengikuti ceramah tersebut.
Saat itu, Yuan berusia lebih dari enam puluh tahun. Tubuhnya tegap, dahinya sedikit botak, tetapi gerak-geriknya lincah. Karena itu, selama bertahun-tahun setelahnya, dalam ingatan siswa tersebut, Yuan selalu terbayang sebagai pria paruh baya yang sedikit botak.
Ceramah hari itu berlangsung lama. Isinya terlalu sulit dipahami bagi para siswa sekolah dasar itu, bahkan terasa agak membosankan. Yuan barangkali melihat sekelompok siswa yang mengantuk di bawah panggung. Maka, pada sesi tanya jawab setelah ceramah, ia berinisiatif mempersilakan anak-anak mengajukan pertanyaan.
Pimpinan sekolah segera memilih siswa yang duduk di barisan pertama dan juga merupakan pengurus inti regu besar Pionir Muda. Mendapat kesempatan bertanya yang datang tiba-tiba, ia sempat kebingungan. Namun, karena sejak kecil pemberani dan doyan makan, tak lama kemudian ia menemukan sebuah pertanyaan yang terdengar agak kekanak-kanakan. Sambil memegang mikrofon, ia bertanya kepada Yuan, “Kakek Yuan, apakah beras hibrida Anda enak?”
Belum selesai ia berbicara, ruangan pun dipenuhi gelak tawa. Namun, Yuan menjawabnya dengan wajah serius, “Pertanyaan ini sangat bagus. Saya bisa memberi tahu teman kecil ini bahwa beras hibrida adalah beras indica. Rasanya tidak seenak beras japonica yang disukai orang-orang di utara. Namun, hasil panen beras hibrida jenis indica tinggi sehingga bisa membuat orang kenyang.
Kalian bisa pulang dan bertanya kepada kakek-nenek kalian. Orang-orang yang sudah berumur tahu rasanya kelaparan.
Masalah hasil produksi pangan adalah masalah besar. Hanya dengan menyelesaikannya, kita bisa memastikan semua orang di Tiongkok kenyang.
Setelah kebutuhan untuk kenyang terpenuhi, barulah kita bisa memikirkan soal makan enak. Namun, menurut saya, sepanjang hidup saya, yang bisa saya lakukan hanyalah berupaya menyelesaikan masalah agar orang-orang bisa kenyang. Adapun soal membuat orang-orang Tiongkok bisa makan enak, itu adalah tugas yang kami wariskan kepada kalian, generasi berikutnya.”
Saat itu, ia belum memahami makna mendalam dari kata-kata tersebut. Namun, ia mencatatnya di buku kecil yang selalu dibawanya.
Beberapa tahun lalu, keluarganya pindah rumah dan secara kebetulan menemukan buku itu. Ia pun membaca kembali kata-kata tersebut.
Di balik kata-kata itu terdapat sikap seorang ilmuwan senior yang teliti dan rasa tanggung jawab yang kuat. Saat seorang siswa sekolah dasar mengajukan pertanyaan yang agak kekanak-kanakan, ia tidak menjawabnya dengan asal-asalan, melainkan menjawab dengan sungguh-sungguh. Ia juga memanfaatkan kesempatan itu untuk membantu generasi muda memahami tanggung jawab yang mereka emban terhadap negara dan masyarakat.
Hari ini, penghormatan terbaik yang bisa kita berikan kepada sang profesor adalah berusaha agar diri kita sendiri, orang lain, dan seluruh rakyat Tiongkok dapat makan lebih enak dan hidup lebih baik.
Semoga sang profesor beristirahat dengan tenang!