Beberapa taipan yang saya kenal kini semuanya memilih diam dan bertahan. Beberapa hari lalu, saya mengobrol dengan seorang pengusaha yang kekayaannya mencapai ratusan juta yuan. Di rekeningnya tersimpan lebih dari 70 juta yuan dalam bentuk uang tunai yang bisa digunakan, tetapi tahun ini ia bahkan belum menyentuh satu pun proyek baru. Ia bahkan malas menghadiri reuni tahunan industri yang sudah diselenggarakan lebih dari sepuluh tahun. Setiap hari ia pergi memancing di taman tepat waktu, bahkan malas membalas laporan lembur yang dikirim bawahannya.

Orang luar mengira mereka sudah muak dengan dunia atau kehilangan semangat juang.

Padahal, perhitungan mereka justru lebih cermat daripada siapa pun: dalam situasi seperti sekarang, tidak melakukan apa-apa justru merupakan langkah dengan tingkat keuntungan tertinggi.

Siapa pun yang sedikit memahami operasional bisnis riil pasti tahu, begitu mesin dinyalakan, biaya tetap untuk air, listrik, dan gas, penyusutan pabrik, serta iuran jaminan sosial semuanya tetap harus dibayar.

Yang lebih parah adalah siklus pembayaran. Dulu, kalau pelanggan di hilir menahan pembayaran selama dua bulan, setidaknya uangnya masih akan masuk. Sekarang, pembayaran bisa ditunda begitu saja lebih dari setengah tahun, bahkan utang langsung dibayar dengan stok yang tak laku. Setelah bersusah payah bekerja sepanjang tahun, gudang penuh dengan bahan baku yang nilainya terus turun, sementara biaya pekerja tetap harus dibayar tunai dari kantong sendiri.

Setelah berjibaku setahun, kalau dihitung dengan teliti, hasilnya bahkan tak cukup untuk menutup biaya penyusutan mesin.

“Daripada terus merugi perlahan dengan tetap beroperasi, lebih baik tutup dulu untuk melindungi modal.”
Ini sama sekali bukan bermalas-malasan, melainkan pertarungan bertahan hidup yang sangat kejam di tengah persaingan memperebutkan pasar yang kian terbatas.

Para veteran bisnis yang menggenggam banyak uang tunai kini hanya mengamati dengan dingin para pesaing yang mati-matian berjibaku di pasar. Siapa yang menambah utang demi merebut pasar, dialah yang lebih dulu tumbang saat arus kasnya putus.

Ketika pabrik-pabrik kecil yang tak kuat bertahan berguguran dan mesin-mesinnya dijual dengan harga besi tua, barulah mereka yang duduk memancing di tepi sungai turun tangan dengan kartu andalan di tangan untuk memungut peluang.

Jangan lagi sembarangan mencela orang lain karena dianggap tak mau maju.

Mereka yang benar-benar paham cara bertahan sedang menunggu sampai babak eliminasi ini mencapai titik terendah.