Aku sudah lama mengamati narasi “deflasi” FREEDZ ini. Makin diperhatikan, makin terasa seperti mengemas jalur keluar sebagai daya tarik.

Mekanismenya ditulis sendiri oleh pihak resmi: setengah royalti dari setiap transaksi di pasar sekunder masuk ke kas komunitas, dan siapa pun yang memegang satu FREEDZ bisa membakarnya untuk mengambil seluruh ETH yang terkumpul di kas. Akun resmi bahkan membuat satu unggahan khusus: simpan untuk menikmati seninya, atau bakar untuk mengambil kumpulan hadiah—pilihan ada di tanganmu.

Dari mana uang di kas itu berasal? Dari royalti yang dibayar oleh pembeli berikutnya. Makin banyak yang membakar, makin cantik narasi “deflasi”-nya. Pada dasarnya, orang yang lebih dulu menentukan waktu mengambil biaya transaksi dari mereka yang datang belakangan, lalu penurunan suplai dipromosikan sebagai kabar baik. Ini bukan model deflasi, ini permainan rebutan kursi.

Pada 30 Oktober, akun resmi lebih dulu mengumumkan “hampir 190 karya dibakar dalam kurang dari 24 jam”, lalu sore harinya mengumumkan “200+”, seolah-olah angka popularitas itu sedang digenjot. Di saat yang sama, ada yang memamerkan transaksi: enam karya terjual dalam sehari, masing-masing seharga 16 sampai 36 dolar, totalnya 135 dolar, dengan keterangan “not bad”. Dari koleksi berisi 8888 karya, dengan harga dasar di level ini, hitung sendiri seberapa gemuk isi kasnya.

Jelas juga dari mana popularitas itu datang: anggota tim menulis, “Tinggalkan komentar dengan foto profil FREEDZ, akan kuikuti semuanya”; ada 64 balasan, lalu linimasa penuh dengan aksi saling mengikuti antara sesama pemilik Freedz. Peringkat mingguan OpenSea naik ke posisi pertama berkat 44 unggahan dari para pemegang. Peringkat yang didongkrak oleh aksi saling mengikuti berbeda jauh dari permintaan beli yang nyata.

Avatar teksnya memang dibuat dengan bagus, soal itu aku tidak menyangkal. Tapi jangan jadikan “bakar untuk mengambil isi kas” sebagai penopang nilai. Pintu itu disediakan bagi mereka yang keluar paling awal.

#NFT #FREEDZ