Pada Konferensi Nol Karbon 2026, Li Daokui, Direktur Institut Riset Pemikiran dan Praktik Ekonomi Tiongkok di Universitas Tsinghua, menyatakan bahwa dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, semakin banyak perusahaan Tiongkok yang berekspansi ke Eropa akan menjadi tren yang tak terhindarkan. Menurutnya, hal ini bukan hanya berarti perluasan ruang pasar, tetapi juga menandakan perubahan dalam pola kerja sama internasional. Perusahaan Tiongkok dapat mendirikan usaha patungan dengan perusahaan Eropa, memanfaatkan keunggulan teknologi dan modal mereka untuk memperoleh akses ke pasar setempat.

Menanggapi perdebatan di internet tentang apakah belajar bahasa asing masih penting dan apakah ujian bahasa asing masih perlu diikuti, Li Daokui memberikan jawaban yang tegas. Ia mengatakan bahwa terlepas dari bagaimana tren di internet berubah, kaum muda tetap harus menguasai bahasa Inggris dengan baik. “Setelah menguasai bahasa Inggris, dengan kemampuan teknologi yang kalian miliki sekarang, pergi ke Eropa kelak pada dasarnya sama seperti orang-orang asing yang dahulu datang bekerja di Shanghai, Nanjing, dan daerah pesisir.”

Pernyataan Li Daokui memicu perbincangan hangat. Sebagian orang berpendapat bahwa seiring pesatnya perkembangan kecerdasan buatan, pentingnya belajar bahasa mungkin semakin berkurang. Namun, sebagian lainnya membantah bahwa bahasa merupakan jembatan bagi pertukaran budaya dan bisnis, dan penguasaan bahasa Inggris tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dari daya saing global. Pandangannya menawarkan perspektif yang seimbang: teknologi memang penting, tetapi bahasa adalah alat utama untuk menghubungkan teknologi dengan pasar internasional.

Bagi mereka yang ingin mengembangkan karier di luar negeri, saran Li Daokui sangatlah jelas: tingkatkan kemampuan bahasa Inggris dan kuasai keterampilan teknis yang mumpuni. Dengan bekal itu, kelak di panggung Eropa, kalian akan memiliki kepercayaan diri untuk bersaing sejajar dengan perusahaan setempat.