NETANYAHU KEHILANGAN MAYORITAS PARLEMEN! ISRAEL MENGHADAPI GEMPA POLITIK SAAT OPOSISI BERGEGAS MEMBENTUK PEMERINTAHAN BARU

Israel memasuki periode baru ketidakpastian politik setelah koalisi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu gagal meraih mayoritas parlemen dalam pemilu Oktober 2026.

Hasil akhir telah mengubah peta politik negara itu, memicu persaingan rumit mengenai siapa yang akan memerintah Israel selanjutnya.

šŸ“Š ANGKA-ANGKA DI BALIK KRISIS POLITIK

120 kursi Knesset terbagi sebagai berikut:

* Koalisi Netanyahu: 53 kursi.
* Blok oposisi utama: 48 kursi.
* Partai-partai yang dipimpin oleh warga Arab: 19 kursi.
* Mayoritas yang dibutuhkan untuk memerintah: 61 kursi.

Partai Likud pimpinan Netanyahu menjadi partai tunggal terbesar dengan meraih 27 kursi. Namun, jumlah ini belum cukup untuk menjamin kelangsungan politiknya.

šŸ‡®šŸ‡± PARTAI-PARTAI ARAB MEMEGANG KUNCI

Ke-19 kursi yang diraih partai-partai yang dipimpin oleh warga Arab dapat menjadi penentu dalam menentukan pemerintahan berikutnya.

Pemimpin oposisi Gadi Eisenkot menghadapi pilihan strategis yang sulit: berunding dengan partai-partai politik Arab untuk membentuk mayoritas atau berisiko membiarkan Netanyahu tetap berkuasa.

Tantangannya, beberapa partai oposisi telah menolak bekerja sama dengan kelompok-kelompok yang dipimpin oleh warga Arab.

āš–ļø APA YANG AKAN TERJADI SELANJUTNYA?

Presiden Isaac Herzog akan mengawasi proses pembentukan pemerintahan baru setelah hasil pemilu disahkan secara resmi.

Negosiasi politik dapat menghasilkan tiga kemungkinan skenario:

1. Koalisi baru yang dipimpin oposisi dan didukung oleh partai-partai Arab.
2. Pemerintahan persatuan nasional yang melibatkan rival politik.
3. Kebuntuan berkepanjangan yang pada akhirnya dapat memicu pemilu lagi.

Knesset yang baru diperkirakan akan bersidang pada 10 November.