Akhirnya, ada yang mulai menghitung “berapa banyak pekerjaan yang telah diselesaikan” di industri robotika, bukan “berapa banyak unit yang telah diproduksi”.
10-29, Shanghai: di Innovation Day 2026, AGIBOT dari Zhiyuan memperkenalkan metrik baru: Worken (Work + Token), yang dalam bahasa Mandarin disebut “jam kerja cerdas efektif”.
Rumusnya sederhana:
Worken = jumlah robot yang sedang bertugas × durasi kerja otonom × koefisien efisiensi hasil kerja
1️⃣ Hanya menghitung robot yang benar-benar sedang menjalankan tugas; stok dan robot pajangan di ruang pamer tidak dihitung
2️⃣ Hanya menghitung waktu kerja otonom; waktu saat robot menyala tetapi siaga, atau dikendalikan dari jarak jauh oleh manusia di sampingnya, tidak dihitung
3️⃣ Hasil kerja dibandingkan dengan tolok ukur tugas, misalnya hasil kerja yang memenuhi standar dari seorang pekerja manusia dalam kondisi yang sama
Dalam acara yang sama, mereka juga meluncurkan robot industri G2 Max (21 derajat kebebasan, mampu membawa beban 40 kg dengan kedua lengannya), model fondasi berwujud GO-3 Preview, serta mengumumkan bahwa Link-U OS 1.0 direncanakan sepenuhnya menjadi sumber terbuka dan disumbangkan kepada OpenAtom Foundation sebelum akhir tahun. Pihak resmi menyatakan bahwa unit ke-20.000 selesai diproduksi pada September.
Pandangan saya:
Gagasan ini serupa dengan pergeseran di dunia AI dari “berlomba-lomba soal parameter” ke “menghitung hasil token”. Cepat atau lambat, valuasi Physical AI harus beralih dari narasi jumlah pengiriman ke “berapa banyak pekerjaan berkualitas yang benar-benar diselesaikan setiap mesin dalam setahun”. Siapa yang lebih dulu menjadikan angka ini dapat diaudit, dialah yang punya kuasa menentukan harga.
Namun, tetaplah tenang: saat ini Worken baru sebatas usulan dari Zhiyuan sendiri, bukan standar industri; cara menetapkan tolok ukur tugas dan siapa yang mengaudit datanya juga belum ditentukan. Sebelum melihat data Worken yang dapat diverifikasi oleh pihak ketiga, anggap saja ini sebagai kerangka yang bagus, bukan KPI yang harus dipercaya begitu saja.
Proyek-proyek di dunia blockchain yang menggarap DePIN / jaringan data robotika bisa mulai meniru ini: pembayaran berdasarkan jam kerja efektif jauh lebih masuk akal daripada menerbitkan token berdasarkan jumlah perangkat.
Sumber: situs resmi AGIBOT / siaran pers PR Newswire 10-29, The Robot Report
#AI #机器人 #PhysicalAI
Hanya untuk berbagi informasi, bukan merupakan saran investasi.
10-29, Shanghai: di Innovation Day 2026, AGIBOT dari Zhiyuan memperkenalkan metrik baru: Worken (Work + Token), yang dalam bahasa Mandarin disebut “jam kerja cerdas efektif”.
Rumusnya sederhana:
Worken = jumlah robot yang sedang bertugas × durasi kerja otonom × koefisien efisiensi hasil kerja
1️⃣ Hanya menghitung robot yang benar-benar sedang menjalankan tugas; stok dan robot pajangan di ruang pamer tidak dihitung
2️⃣ Hanya menghitung waktu kerja otonom; waktu saat robot menyala tetapi siaga, atau dikendalikan dari jarak jauh oleh manusia di sampingnya, tidak dihitung
3️⃣ Hasil kerja dibandingkan dengan tolok ukur tugas, misalnya hasil kerja yang memenuhi standar dari seorang pekerja manusia dalam kondisi yang sama
Dalam acara yang sama, mereka juga meluncurkan robot industri G2 Max (21 derajat kebebasan, mampu membawa beban 40 kg dengan kedua lengannya), model fondasi berwujud GO-3 Preview, serta mengumumkan bahwa Link-U OS 1.0 direncanakan sepenuhnya menjadi sumber terbuka dan disumbangkan kepada OpenAtom Foundation sebelum akhir tahun. Pihak resmi menyatakan bahwa unit ke-20.000 selesai diproduksi pada September.
Pandangan saya:
Gagasan ini serupa dengan pergeseran di dunia AI dari “berlomba-lomba soal parameter” ke “menghitung hasil token”. Cepat atau lambat, valuasi Physical AI harus beralih dari narasi jumlah pengiriman ke “berapa banyak pekerjaan berkualitas yang benar-benar diselesaikan setiap mesin dalam setahun”. Siapa yang lebih dulu menjadikan angka ini dapat diaudit, dialah yang punya kuasa menentukan harga.
Namun, tetaplah tenang: saat ini Worken baru sebatas usulan dari Zhiyuan sendiri, bukan standar industri; cara menetapkan tolok ukur tugas dan siapa yang mengaudit datanya juga belum ditentukan. Sebelum melihat data Worken yang dapat diverifikasi oleh pihak ketiga, anggap saja ini sebagai kerangka yang bagus, bukan KPI yang harus dipercaya begitu saja.
Proyek-proyek di dunia blockchain yang menggarap DePIN / jaringan data robotika bisa mulai meniru ini: pembayaran berdasarkan jam kerja efektif jauh lebih masuk akal daripada menerbitkan token berdasarkan jumlah perangkat.
Sumber: situs resmi AGIBOT / siaran pers PR Newswire 10-29, The Robot Report
#AI #机器人 #PhysicalAI
Hanya untuk berbagi informasi, bukan merupakan saran investasi.