Bitcoin kembali turun di bawah $80.000 dan diperdagangkan di sekitar $77.527. Harganya turun 3% dalam 24 jam terakhir dan 5% selama sepekan. Banyak investor bertanya-tanya mengapa. AS memiliki utang sekitar $40 triliun, inflasi mendekati 4%, harga minyak tinggi di tengah konflik dengan Iran, dan Bitcoin masih belum berhasil menembus level yang lebih tinggi.

James Lavish, mantan investor Wall Street yang menulis tentang Bitcoin dan ekonomi makro, mengatakan bahwa ada beberapa faktor yang menahan harga. Beberapa di antaranya mudah luput dari perhatian.

Pasar Lainnya Juga Sedang Turun

Menurut data pasar, pelemahan terjadi di seluruh pasar kripto:

  • Ethereum: $2,237.76, turun 3.9% dalam 24 jam dan 7.4% selama 7 hari

  • BNB: $703.19, turun 6.6% dalam 24 jam dan 5.7% selama 7 hari

  • XRP: $1.25, turun 2.9% dalam 24 jam dan 5.5% selama 7 hari

  • Solana: $96.98, turun 3.4% dalam 24 jam dan 7.5% selama 7 hari

Alasan 1: AI Menyedot Uang

Lavish mengatakan sebagian besar uang investor mengalir ke saham AI. Sebagian besar kenaikan S&P 500 tahun ini berasal dari sekelompok kecil perusahaan, dan banyak uang yang mungkin masuk ke Bitcoin justru tertanam dalam investasi tersebut.

Alasan 2: Uang Tunai Dan Obligasi Kembali Memberi Imbal Hasil Menarik

Kini investor bisa memperoleh imbal hasil yang cukup besar hanya dengan menyimpan uang tunai. Sebagian juga membeli obligasi jangka panjang dengan imbal hasil sekitar 5%, berharap mendapat keuntungan jika suku bunga turun. Lavish menilai obligasi jangka panjang sebagai investasi yang buruk dalam jangka panjang, tetapi ia memahami alasan sebagian trader memanfaatkannya untuk meraih keuntungan lebih cepat.

Alasan 3: Para Penjual Tersembunyi

Menurut Lavish, tekanan yang paling tidak terlihat berasal dari pemegang Bitcoin lama yang menjual opsi beli atas BTC mereka untuk memperoleh penghasilan tambahan. Berikut cara hal itu memicu aksi jual:

  • Para pemegang biasanya menjual opsi beli tersebut kepada pembuat pasar

  • Pembuat pasar kemudian memiliki opsi beli tersebut dan harus melindungi diri dari pergerakan harga

  • Untuk melakukannya, mereka menjual Bitcoin senilai sekitar 30% hingga 40% dari posisi tersebut

Sebagai contoh, jika pembuat pasar memegang opsi beli yang mencakup Bitcoin senilai $1 juta, mereka mungkin perlu menjual BTC senilai $300,000 hingga $400,000 sebagai lindung nilai. Lavish mengatakan hal ini sedang terjadi sekarang dan menambah tekanan jual yang berkelanjutan.

Alasan 4: Leverage Membuat Bitcoin Terjebak Dalam Kisaran Harga

Lavish mengatakan leverage yang tertanam dalam produk “Bitcoin kertas” membuat harga bergerak dalam kisaran terbatas. Pasar Bitcoin juga jauh lebih besar dibandingkan pada 2013 atau 2014, ketika sejumlah kecil uang bisa menggerakkan harganya hingga ribuan dolar. Kini, dibutuhkan modal yang jauh lebih besar untuk menggerakkannya.

Alasan 5: The Fed Dan Kredit Yang Ketat

Lavish mengatakan Federal Reserve telah memperketat persyaratan pinjaman, sehingga mengurangi uang berlebih yang tersedia untuk aset berisiko. Investor juga berusaha menilai kondisi ekonomi dari segi pertumbuhan, manufaktur, dan inflasi. Sebelum situasinya lebih jelas, Bitcoin, emas, Nasdaq, dan S&P 500 tampaknya masih tertahan dalam pola menunggu.

Apakah Kejatuhan Pada Oktober Menandai Puncak?

Lavish juga menyoroti peristiwa deleveraging besar pada Oktober, ketika banyak trader yang menggunakan leverage mengalami kerugian hingga modalnya habis. Ia mengatakan peristiwa itu mungkin berperan dalam menentukan puncak Bitcoin. Setelah 30 tahun bekerja di Wall Street, katanya, sulit untuk tidak curiga bahwa seseorang memanfaatkan momen tersebut. Ia menambahkan bahwa peristiwa itu juga bisa jadi merupakan reaksi berantai, mirip dengan krisis obligasi Inggris pada 2022, ketika aksi jual paksa oleh dana pensiun memicu aksi jual yang lebih luas.