Mengapa setelah kabar buruk mendadak muncul, kita selalu buru-buru menilai, “Apakah ini titik terendah?”
Berita buruk baru saja muncul, kerugian masih dihitung, dampaknya belum jelas, tetapi grup trading sudah terbelah menjadi dua kubu: satu kubu berteriak pasar bakal ambruk, kubu lainnya menyerukan untuk membeli saat harga turun.
Laporan investigasi bahkan belum selesai ditulis, tetapi posisi sudah dipenuhi.
Karena menunggu terasa sangat menyiksa. Saat tidak punya posisi, kita takut ketinggalan reli; saat punya posisi, kita takut harga terus turun. Kita jadi terburu-buru mencari kesimpulan agar bisa menekan tombol transaksi.
Namun, setelah peristiwa mendadak terjadi, risiko dan harga belum tentu tercermin pada saat yang sama.
Penurunan gelombang pertama mungkin dipicu aksi jual untuk menghindari risiko. Setelah itu, kita masih perlu mencermati likuidasi posisi berleverage, penarikan dana, dan apakah institusi lain ikut terdampak. Satu lilin hijau yang memantul juga mungkin hanya berarti tekanan jual mereda sementara atau para penjual melakukan penutupan posisi. Apakah permintaan beli akan bertahan masih perlu dilihat.
Dalam situasi seperti ini, yang paling berguna adalah menuliskan terlebih dahulu: bukti baru seperti apa yang akan membuat kita mengubah penilaian? Situasi yang terkendali, arus keluar dana yang mereda, atau harga yang tidak lagi mencetak titik terendah baru saat menguji ulang level sebelumnya, semuanya lebih layak dipertimbangkan daripada sekadar berkata, “Harganya sudah turun begitu banyak, seharusnya segera memantul.”
Melewatkan sebagian reli awal bisa menjadi harga yang harus dibayar demi menunggu informasi yang lebih lengkap.
Selalu buru-buru menyatakan sikap bisa membuat kita terikat pada penilaian paling awal. Belakangan, mengubah pendapat atau mengurangi posisi pun terasa memalukan.
Ingat: dalam peristiwa mendadak, orang yang paling cepat memberikan kesimpulan mudah menarik perhatian; orang yang bersedia memperbarui penilaian berdasarkan bukti punya peluang lebih besar untuk menjaga modal.
Berita buruk baru saja muncul, kerugian masih dihitung, dampaknya belum jelas, tetapi grup trading sudah terbelah menjadi dua kubu: satu kubu berteriak pasar bakal ambruk, kubu lainnya menyerukan untuk membeli saat harga turun.
Laporan investigasi bahkan belum selesai ditulis, tetapi posisi sudah dipenuhi.
Karena menunggu terasa sangat menyiksa. Saat tidak punya posisi, kita takut ketinggalan reli; saat punya posisi, kita takut harga terus turun. Kita jadi terburu-buru mencari kesimpulan agar bisa menekan tombol transaksi.
Namun, setelah peristiwa mendadak terjadi, risiko dan harga belum tentu tercermin pada saat yang sama.
Penurunan gelombang pertama mungkin dipicu aksi jual untuk menghindari risiko. Setelah itu, kita masih perlu mencermati likuidasi posisi berleverage, penarikan dana, dan apakah institusi lain ikut terdampak. Satu lilin hijau yang memantul juga mungkin hanya berarti tekanan jual mereda sementara atau para penjual melakukan penutupan posisi. Apakah permintaan beli akan bertahan masih perlu dilihat.
Dalam situasi seperti ini, yang paling berguna adalah menuliskan terlebih dahulu: bukti baru seperti apa yang akan membuat kita mengubah penilaian? Situasi yang terkendali, arus keluar dana yang mereda, atau harga yang tidak lagi mencetak titik terendah baru saat menguji ulang level sebelumnya, semuanya lebih layak dipertimbangkan daripada sekadar berkata, “Harganya sudah turun begitu banyak, seharusnya segera memantul.”
Melewatkan sebagian reli awal bisa menjadi harga yang harus dibayar demi menunggu informasi yang lebih lengkap.
Selalu buru-buru menyatakan sikap bisa membuat kita terikat pada penilaian paling awal. Belakangan, mengubah pendapat atau mengurangi posisi pun terasa memalukan.
Ingat: dalam peristiwa mendadak, orang yang paling cepat memberikan kesimpulan mudah menarik perhatian; orang yang bersedia memperbarui penilaian berdasarkan bukti punya peluang lebih besar untuk menjaga modal.
