Aset senilai US$2,5 miliar dibekukan: Mengapa penerbit stablecoin mampu membekukan aset on-chain?
Salah satu detail yang patut dikaji lebih dalam dalam insiden keamanan Binance kali ini adalah: mengapa Tether dan Circle bisa membekukan sebagian dana yang terkait?
Banyak orang menganggap ciri terbesar blockchain adalah desentralisasi: begitu aset masuk ke blockchain, tidak ada pihak yang bisa mengintervensinya.
Namun, pemahaman ini tidak sepenuhnya tepat.
Bitcoin memiliki perbedaan penting dengan USDT dan USDC. Jaringan Bitcoin tidak memiliki penerbit terpusat yang bisa dengan mudah membekukan BTC milik semua pengguna, sedangkan USDT dan USDC adalah stablecoin yang dikelola oleh lembaga penerbit.
Dalam desain jaringan blockchain dan kontrak token tertentu, penerbit dapat menggunakan hak pengelolaan untuk mengambil tindakan seperti membekukan alamat tertentu, sehingga token terkait tidak dapat ditransfer secara normal.
Itulah sebabnya Tether dan Circle dapat membantu menghentikan pergerakan sebagian aset terkait dalam insiden ini.
Namun, ini bukan berarti semua mata uang kripto bisa dibekukan, atau bahwa lembaga mana pun dapat dengan bebas mengendalikan semua dana on-chain.
Bagi investor, peristiwa ini mengungkap satu hal penting: transparansi blockchain, kendali mandiri atas aset, dan hak pengelolaan penerbit token adalah tiga konsep yang berbeda.
Memahami perbedaan ini adalah kunci untuk benar-benar memahami risiko mata uang kripto.
Mana yang lebih Anda utamakan: kemampuan stablecoin untuk dikelola sesuai aturan, atau karakteristik aset yang tidak dikendalikan oleh lembaga terpusat?
Salah satu detail yang patut dikaji lebih dalam dalam insiden keamanan Binance kali ini adalah: mengapa Tether dan Circle bisa membekukan sebagian dana yang terkait?
Banyak orang menganggap ciri terbesar blockchain adalah desentralisasi: begitu aset masuk ke blockchain, tidak ada pihak yang bisa mengintervensinya.
Namun, pemahaman ini tidak sepenuhnya tepat.
Bitcoin memiliki perbedaan penting dengan USDT dan USDC. Jaringan Bitcoin tidak memiliki penerbit terpusat yang bisa dengan mudah membekukan BTC milik semua pengguna, sedangkan USDT dan USDC adalah stablecoin yang dikelola oleh lembaga penerbit.
Dalam desain jaringan blockchain dan kontrak token tertentu, penerbit dapat menggunakan hak pengelolaan untuk mengambil tindakan seperti membekukan alamat tertentu, sehingga token terkait tidak dapat ditransfer secara normal.
Itulah sebabnya Tether dan Circle dapat membantu menghentikan pergerakan sebagian aset terkait dalam insiden ini.
Namun, ini bukan berarti semua mata uang kripto bisa dibekukan, atau bahwa lembaga mana pun dapat dengan bebas mengendalikan semua dana on-chain.
Bagi investor, peristiwa ini mengungkap satu hal penting: transparansi blockchain, kendali mandiri atas aset, dan hak pengelolaan penerbit token adalah tiga konsep yang berbeda.
Memahami perbedaan ini adalah kunci untuk benar-benar memahami risiko mata uang kripto.
Mana yang lebih Anda utamakan: kemampuan stablecoin untuk dikelola sesuai aturan, atau karakteristik aset yang tidak dikendalikan oleh lembaga terpusat?