# Bab 037: Semakin Cepat Naik, Semakin Terasa Benar

Pada akhir November, pembeli lama memarkir mobilnya di depan Xinyu. Roda belakangnya menindih tumpukan kecil daun yang baru saja disapu dan dikumpulkan oleh toko sebelah.

Junzi hendak menyuruh seseorang memajukan mobil sedikit, tetapi seorang pekerja muda lebih dulu turun, membuka bagasi, lalu mengeluarkan dua kardus. Pembeli lama duduk di kursi pengemudi sambil menelepon. Dari balik jendela mobil, ia melambaikan tangan, menyuruh si pemuda meletakkan barang-barang itu di dekat dinding dulu, jangan sampai menghalangi pintu toko.

“Ganti mobil?” Junzi keluar dan mengitari bagian depan mobil. “Bagus juga. Lebih gampang buat mengangkut barang.”

Pembeli lama itu menutup telepon, lalu mengusap sedikit debu di pintu mobil dengan sikunya. Katanya, mobil yang dulu sudah tidak cukup lagi. Pegawai baru itu masih belum terbiasa. Bahkan ketika pelanggan datang mengambil barang, ia sendiri yang harus memeriksanya. Junzi menerima kunci yang disodorkannya, lalu mengembalikannya sambil tertawa. Katanya, si pemuda itu bahkan masih mencari-cari cara membuka pintu belakang. Hari ini sepertinya ia harus bolak-balik lebih sering.

Ye Yan keluar dari toko dan membantu menahan kardus yang hampir tergelincir. Ia berhenti sejenak di samping pintu mobil, lalu melihat ke kursi belakang. Tidak ada tas perkakas di sana, dan kursinya pun tidak tertindih barang. Ruang di depan kaki masih cukup lega.

Xiao Yezi berdiri di tangga. Ia melihat ayahnya mengusap tangannya yang berdebu ke sisi celana sebelum menyentuh kusen pintu.

Orang yang dulu menawar komputer lama seharga 60 yuan kini membiarkan orang lain mengangkat barang-barangnya. Ia sendiri hanya perlu menunjuk kardus mana untuk siapa. Seseorang dari toko sebelah menjulurkan kepala dan bertanya apakah ia masih kekurangan pekerja. Ia tidak langsung menolak, hanya menyuruh orang itu meninggalkan nomor telepon. Saat membicarakan harga-harga beberapa hari ini, ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan kepada Ye Yan pesan terbaru yang baru diterimanya. Harganya lebih tinggi lagi daripada yang ditanyakan orang-orang sebelumnya.

Junzi kembali ke toko. Suaranya sedikit lebih keras daripada biasanya saat berkata bahwa teknisi di Xinyu kurang, bahkan pekerjaan kecil-kecilan pun sudah cukup menyibukkan. Ia merapikan daftar harga di depan konter, tetapi selembar formulir pembatalan ikut tersingkap dari balik kertas itu. Dua sore di bulan Oktober sudah dicoret, tetapi nama Ye Yan dan Xiao Yezi masih tercantum. Junzi menyelipkan kembali formulir itu ke dalam map, agar orang di luar tidak melihatnya.

Pelanggan yang datang mengambil barang tidak langsung mengangkat kardus. Ia malah mengikuti pembeli lama masuk dan bertanya kepada Ye Yan apakah ia bisa mengurus BitShares.

“Katanya nanti ini bakal memberi saham. Aku tidak mau menambah mesin lagi. Lebih baik langsung beli saham perusahaan itu, jadi tidak perlu repot mengurusnya setiap hari.”

Pembeli lama membuka laptop yang dibawanya dan mencari halaman yang tadi ia lihat. Begitu mendengar kata “saham”, pelanggan itu langsung meraih pulpen, bersiap mencatat jumlah yang akan dibelinya.

Xiao Yezi menahan tepi kertas dan memintanya melihat dulu apa yang akan diterimanya. Yang bisa dipindahkan sekarang adalah ProtoShares, disingkat PTS. Halaman itu menjelaskan bahwa BitShares akan dibagikan nanti berdasarkan jumlah yang dimiliki. Bagian itu belum terwujud, dan tidak ada daftar pemegang saham perusahaan yang menunggu untuk mencantumkan namanya.

Pulpen pelanggan itu terhenti. Ia mengangkat pandangan ke arah pembeli lama.

“Yang kumaksud itu BitShares, bukan saham yang tercatat secara resmi.” Pembeli lama membalik halaman itu kembali. “Asetnya bisa diterima sekarang. Nanti dibagikan atau tidak, dan bagaimana caranya, baca saja yang mereka tulis. Aku bukan wakil mereka untuk menandatangani kontrak.”

Pelanggan itu membaca halaman tersebut dua kali, lalu meletakkan kertasnya kembali di konter dan berkata akan mencari tahu sendiri di rumah. Ia tetap membawa pulang kardus yang sudah dipesannya, sementara pekerja baru mengangkat kardus lainnya ke mobil. Urusan membeli PTS tidak diserahkan kepada Xinyu. Pembeli lama justru duduk dan menunjukkan catatan penerimaannya kepada Ye Yan, lalu bertanya apakah ia juga ingin mencoba.

Ye Yan tidak menjawab. Ia terlebih dulu memasang kembali casing komputer di meja reparasi. Panel sampingnya tersangkut di salah satu sudut. Ia mengendurkan sekrup dan mengerjakannya perlahan, tetapi pandangannya kembali melayang melewati konter, melihat mobil di luar jendela.

Xiao Yezi menghampirinya dan menarik bangku kosong ke sampingnya.

“Jangan terburu-buru membeli,” katanya. “Sekarang semua orang sedang ikut-ikutan. Sebentar lagi, mungkin situasinya tidak akan seperti ini lagi.”

Ye Yan tidak mengangkat kepala. “Sebentar lagi itu kapan?”

Ia ingat bahwa arah angin akan berubah pada musim dingin itu. Berita-berita yang muncul kemudian dan keluhan yang pernah dilontarkan ayahnya memenuhi benaknya, tetapi ia tidak punya satu pun bukti yang bisa dikeluarkan dari saku dan ditunjukkan kepadanya. Semakin yakin ia berbicara, semakin mirip dirinya dengan orang yang dulu, sebelum halving tahun lalu, tak mampu menjelaskan kapan harga akan naik.

“Aku tidak bisa memastikannya. Tunggu sebentar dulu, ya?”

Ye Yan mengencangkan sekrup terakhir dan menegakkan casing komputer, baru kemudian berbalik.

“Aku juga sudah membaca halaman-halaman yang kau cari itu. Ada hal-hal yang belum terwujud. Aku tahu membeli ini bukan berarti langsung dapat uang. Tapi kalau kau bilang keadaan akan berubah, setidaknya harus ada sesuatu yang bisa dilihat sekarang. Masa karena hari ini orang itu ganti mobil, kau masih cuma menyuruhku menunggu?”

Xiao Yezi menatap lengan bajunya, tidak mampu membalas. Ia sangat ingin memberitahunya bahwa ia tahu lebih banyak daripada orang di depan toko itu. Namun, kalau diminta menjelaskan perjalanan PTS setelah ini, ia bahkan tidak bisa menyusun satu rangkaian peristiwa yang jelas.

“Waktu itu aku juga tidak memberinya akun orang itu,” lanjut Ye Yan. “Menerima uang dalam jumlah besar untuk orang lain dan mencoba sedikit dengan uangku sendiri itu dua hal berbeda. Kali ini aku ingin memakai kurang dari 0,05 keping, sedangkan 15 keping milik toko tidak akan kusentuh. Aku ingat kekhawatiranmu, dan aku juga ingin melihat sendiri.”

Ia pergi mengambil buku catatannya sendiri, tanpa menyentuh laci yang terkunci. Xiao Yezi duduk sebentar di bangku itu. Ketika mendengar pembeli lama memanggilnya, ia merasa kesal, lalu sedikit panik. Kalau ia pergi begitu saja, ayahnya akan duduk di samping orang itu dan menanyakan semua yang tidak ia pahami kepada orang lain.

Ia mengikuti ayahnya ke konter.

“Menurutku, sebaiknya jangan beli.” Ia mendorong buku catatan itu kembali ke hadapan Ye Yan dan merendahkan suara. “Tapi kalau kau benar-benar mau mencoba, biarkan aku duduk di sampingmu. Kalau ada yang tidak kita pahami, kita lihat bersama. Jangan cuma dengarkan penjelasannya.”

Pembeli lama itu tidak keberatan. Ia bertanya berapa yang diinginkan, dan Ye Yan menjawab dua keping, yang bisa dikirim sekarang, bukan jatah yang baru akan diserahkan nanti. Totalnya 0,04 BTC. Ye Yan memastikan bahwa ia harus membayar lebih dulu, baru pihak sana mengirim PTS. Pembeli lama membolak-balik buku catatannya sejenak, lalu menyetujui harga itu. Ia masih harus mengantar barang, jadi katanya akan kembali malam nanti untuk menyelesaikan transaksi ini. Setelah itu, ia menutup laptop dan pergi.

Sore itu, Ye Yan seperti biasa menyerahkan komputer itu kepada pelanggan lamanya untuk diperiksa. Xiao Yezi tidak lagi membujuknya dengan cerita tentang masa depan. Ia membaca penjelasan PTS yang dipublikasikan sampai selesai dan mencatat dua hal yang belum dipahaminya. Ketika Wu Chunhua datang untuk mencocokkan catatan transaksi, ia sekaligus menceritakan kejadian malam nanti kepadanya.

Wu Chunhua baru menutup telepon setelah memastikan jumlah yang harus diserahkan besok. Ia sudah melihat angka dua keping dan total harganya. Ye Yan menjelaskan bahwa anggarannya 0,05, termasuk biaya, dan seluruhnya akan diambil dari kepemilikan pribadinya yang sudah ada. Ia duduk dan mencatat pengeluaran itu secara terpisah. Ia tidak menambahkan jumlah apa pun untuk Ye Yan, juga tidak menyuruh Xiao Yezi membujuknya lagi.

Di luar jendela, pekerja baru itu kembali dengan mobil untuk mengambil barang dari toko sebelah. Wu Chunhua memandangi kursi belakang mobil dan berkata pelan bahwa kalau di sana ada barang-barang anak, setidaknya masih akan tersisa ruang di dekat kaki.

“Kau juga ingin ganti mobil?” tanya Xiao Yezi.

“Siapa yang tidak mau?” Ia menyingkirkan kabel telepon dari atas kuitansi. “Hari ini aku mengangkat barang sebanyak ini, lenganku masih pegal sampai sekarang. Kalau upah kerja untuk pesanan bulan Oktober bisa disepakati, keadaan pasti sedikit lebih lega.”

Ia membalik halaman formulir pembatalan dan menemukan catatan transaksi yang sebelumnya ia cocokkan. Jumlahnya tetap ia hitung seperti semula. Xiao Yezi memandangi tasnya, tetapi tidak menghiburnya dengan penghasilan yang mungkin akan datang.

Malam harinya, Junzi mengizinkan Ye Yan memakai mesin pemeriksaan, sementara ia sendiri membuka laci untuk mengambil dokumen yang disimpan bersama. Wu Chunhua dan Xiao Yezi ada di sana. Ye Yan memastikan bahwa ia memiliki 14,0395 keping secara pribadi, sementara 15 keping milik toko tetap tidak disentuh. Dengan mesin yang sudah mendapat izin, ia menjalankan klien ProtoShares menggunakan dompet pribadi yang terpisah. Media penyimpanan datanya juga ia bawa sendiri; ia tidak mencampurkannya dengan USB uji milik toko.

Pembeli lama itu kembali. Baru saja ia membuka laptop, pekerjanya sudah memanggil dari pintu, menyuruhnya melihat kardus-kardus. Junzi melambaikan tangan kepada si pemuda, menyuruhnya menunggu dulu di dekat dinding. “Semua orang sudah berkumpul. Kalian meminjam mejaku, jadi biarkan mereka menyelesaikan urusan yang ada di depan mata dulu.” Ia memindahkan kardus yang menghalangi kaki, memberi ruang di antara kedua mesin, lalu berdiri di dekat pintu untuk mengawasi mereka.

Setelah alamat dan jumlahnya diperiksa, Ye Yan sendiri yang mengirim BTC. Jumlah yang benar-benar terpotong bukan hanya 0,04 yang disepakati; ada biaya 0,0005, sehingga total pengeluarannya 0,0405.

Xiao Yezi melihat catatan transaksi itu muncul dan mengetukkan jarinya sekali ke tepi meja. Sebelumnya, ini hanya kalimat yang masih bisa ia cegah; sekarang uangnya sudah benar-benar terkirim. Ia memeriksa alamat penerima sekali lagi, tetapi tidak meminta tetikus dari ayahnya.

Setelah menerima BTC itu, pembeli lama mengirimkan dua keping PTS dari dompetnya sendiri. Catatan penerimaan baru muncul di dompet pribadi Ye Yan. Ia tidak menutup buku catatannya hanya karena penjual berkata sudah mengirim; ia tetap menunggu transaksi itu dikonfirmasi dan memastikan jumlahnya memang dua keping.

Telepon di luar mobil kembali berdering. Pembeli lama turun untuk menjawabnya, sementara Junzi juga dipanggil oleh toko sebelah dan pergi sebentar. Wu Chunhua duduk di balik konter, memeriksa pengeluaran yang dicatat Ye Yan. Lima belas keping milik toko tidak berkurang, sedangkan kepemilikan pribadi ayahnya menjadi 13,9990 keping. Ia mencatat dua keping PTS di kolom lain, tidak mengubahnya menjadi BTC dan tidak pula memasukkannya di samping kepemilikan saham perusahaan.

Ye Yan mencocokkan data BTC bersama yang sudah diperbarui, lalu mengembalikan diska lama dan USB uji seperti semula. Ia juga memeriksa apakah data PTS bisa dibaca, lalu menyimpannya di media penyimpanan yang ia bawa sendiri. Setelah salinan sementara dari uji coba kali ini ditangani, mesin pemeriksaan dikembalikan ke toko. Junzi kembali dan mengunci laci. Ia bertanya apakah mereka sudah selesai. Setelah mendengar jawaban ya, ia menyuruh pekerjanya menyingkirkan kardus yang menghalangi pintu, bersiap menutup toko.

Xiao Yezi masih duduk. Lampu belakang mobil baru itu melintas sekilas di kaca. Ye Yan mendengar suara mesin, mengangkat kepala, lalu memutar buku catatannya ke arahnya.

“Dua keping di sini berarti sudah diterima, kan?”

Ia mengangguk. Ye Yan hendak menutup buku catatannya, tetapi ia menahan halaman itu dan mencocokkan lagi total harga beserta biayanya. Ye Yan tidak mendesaknya. Ia hanya bergeser agar cahaya lampu meja menyinari baris yang sedang dibacanya.

Baru setelah selesai memeriksa, ia melepaskan tangannya.

Ye Yan merapikan buku catatan dan media penyimpanan pribadinya, lalu bangkit mengambil jaket. Xiao Yezi juga berdiri; kaki bangkunya bergesekan dengan lantai, menimbulkan bunyi. Ia berhenti di dekat pintu menunggunya mengenakan jaket. Setelah menarik ritsletingnya, Xiao Yezi berdiri di sampingnya dan berkata lagi sebelum mereka keluar, “Jangan langsung menambah jumlahnya besok pagi.”

“Tidak. Yang kita bicarakan hari ini sudah cukup.”

Junzi menyuruh mereka menyingkir agar ia bisa menurunkan pintu gulung. Ye Yan melangkah keluar, diikuti Xiao Yezi. Lampu di belakang mereka meredup. Media penyimpanan pribadi yang berisi data dompet baru itu ia bawa bersamanya.