Jurnal trading saya memiliki enam kolom. Saya butuh tiga tahun mengalami kerugian untuk sampai ke kolom keenam, satu-satunya kolom yang menghasilkan uang bagi saya.

1. Tanggal dan pasar. Sudah jelas, tetapi sertakan juga sesi: Asia, London, New York. Transaksi terburuk saya banyak terjadi pada pukul 2 pagi IST. Jurnal yang memberi tahu saya, bukan ingatan saya.

2. Setup, dalam satu baris. Jika saya tidak bisa menuliskan alasannya dalam satu baris, berarti memang tidak ada alasan.

3. Ukuran posisi dan risiko. Ukuran posisi dan jumlah rupee yang akan saya rugikan jika stop tersentuh. Bukan persentasenya, melainkan jumlahnya. Persentase tidak terasa menyakitkan. Jumlah uang terasa.

4. Entry, stop, target. Ditulis sebelum transaksi, bukan sesudahnya. Stop yang ditambahkan setelah entry hanyalah angan-angan.

5. Hasil. Untung atau rugi dalam rupee dan dalam R (berapa kali lipat dari risiko yang saya rencanakan).

6. Pelajaran, dalam satu baris. Bukan "seharusnya menahan posisi lebih lama." Sesuatu yang bisa saya lakukan: "Jangan entry dalam 15 menit pertama setelah CPI."

Sebulan sekali, saya mengurutkan berdasarkan kolom 6. Tiga pelajaran yang sama muncul setiap bulan. Itulah jurnal yang sesungguhnya: kesalahan yang terus saya ulangi, tertulis dengan tangan saya sendiri.

Spreadsheet sudah cukup. Aplikasinya tidak penting. Kebiasaannya yang penting. Minggu malam adalah waktu yang tepat untuk menyiapkannya untuk pekan mendatang.

Apakah Anda membuat jurnal, atau hanya mengandalkan ingatan yang selalu memihak Anda?

Hanya untuk edukasi, bukan nasihat keuangan.

$BTC #TradingJournal #TradingPsychology #RiskManagement