Sejak Daguerre menemukan fotografi daguerreotype 180 tahun lalu, semua kamera manusia terus mengulang tindakan yang sama: eksposur tetap dan pengambilan sampel per bingkai. Namun, di dunia nyata yang ganas, silau cahaya terang yang membutakan, jejak gerak di malam gelap, serta lonjakan kebutuhan bandwidth dan daya komputasi saat merekam ribuan bingkai per detik menjadi jalan buntu fisik yang tak mampu ditembus visi mesin.

Tim Komputasi Mirip Otak Universitas Tsinghua menerbitkan terobosan besar sebagai sampul jurnal Nature: mereka mengembangkan chip visi komplementer mirip otak pertama di dunia, “Tianmou”! Terinspirasi oleh keajaiban dua jalur pada retina manusia, chip ini untuk pertama kalinya mengusulkan arsitektur komplementer berbasis primitif visual: satu jalur menangkap perubahan silau mendadak dengan kecepatan supertinggi 10.000 bingkai per detik dan rentang dinamis ultra-lebar 130 dB, sementara jalur lainnya mereproduksi detail spasial dan warna dengan presisi tinggi. Bandwidth berkurang hingga 90%, sekaligus mengakhiri masalah silau yang membutakan dari jarak dekat dan jejak gerak saat melaju kencang di tengah hujan malam!

Dari kendaraan otonom hingga robot cerdas berwujud fisik, revolusi persepsi sedang mengguncang fondasi komputasi AI di perangkat tepi. Kini, dengan “mata surgawi” yang melampaui batas biologis manusia, titik singularitas persepsi dunia nyata terdesentralisasi dan AI Fisik (Physical AI) kian mendekat.

$BTC $BNB #BTC #Crypto #AI #Web3