Apa itu Sortino Ratio? Mengapa hanya berfokus pada volatilitas bisa membuat kita keliru menilai suatu strategi trading?

Dalam trading kripto, dua strategi dengan imbal hasil yang hampir sama bisa memberikan pengalaman risiko yang sangat berbeda. Salah satunya mungkin sering mengalami penurunan tajam, sementara yang lain lebih banyak menunjukkan fluktuasi ke arah atas. Jika risiko hanya diukur dengan volatilitas biasa, perbedaan ini bisa terabaikan. Sortino Ratio adalah metrik yang dapat melengkapi analisis tersebut.

Pertama, apa itu Sortino Ratio?

Sortino Ratio mengukur hubungan antara imbal hasil yang melampaui target dan risiko volatilitas ke arah bawah. Rasio ini mirip dengan Sharpe Ratio, tetapi berfokus pada fluktuasi negatif di bawah target imbal hasil yang ditentukan, bukan menganggap fluktuasi ke segala arah sebagai risiko yang sama.

Kedua, apa bedanya dengan Sharpe Ratio?

Sharpe Ratio biasanya menggunakan standar deviasi keseluruhan imbal hasil, sedangkan Sortino Ratio menggunakan deviasi ke bawah untuk mengukur fluktuasi di bawah target imbal hasil. Target imbal hasil bisa ditetapkan sebesar nol atau disesuaikan dengan kebutuhan strategi. Saat menghitungnya, periode imbal hasil dan dasar penetapan target harus konsisten.

Ketiga, apakah Sortino Ratio yang lebih tinggi selalu lebih baik?

Dengan metode perhitungan dan sampel yang sebanding, Sortino Ratio yang lebih tinggi biasanya menunjukkan imbal hasil berlebih yang lebih besar untuk setiap unit risiko ke bawah. Namun, rasio ini tidak menjamin keuntungan di masa depan dan tidak sepenuhnya mencerminkan risiko penurunan ekstrem secara tiba-tiba, kurangnya likuiditas, atau likuidasi paksa akibat penggunaan leverage.

Keempat, apa yang perlu diperhatikan saat menggunakannya?

Jika sampel historis terlalu singkat atau hanya sedikit terjadi fluktuasi ke bawah, Sortino Ratio bisa terlihat sangat tinggi atau bahkan sulit diestimasi secara konsisten. Karena itu, periksa juga penurunan maksimum, frekuensi kerugian, biaya transaksi, dan kinerja di berbagai fase pasar, alih-alih hanya mengejar satu metrik yang tampak bagus.

Evaluasi strategi yang benar-benar efektif bukan berarti menghilangkan semua fluktuasi, melainkan mengenali risiko penurunan yang tidak sanggup kita tanggung dan menilai apakah imbal hasilnya cukup untuk mengompensasi risiko tersebut.

Artikel berikutnya: Apa itu Calmar Ratio? Mengapa penurunan maksimum juga menjadi tolok ukur penting dalam mengevaluasi strategi trading?