Ada yang merakit sebuah alat kecil dalam semalam, memasarkannya di platform jual beli barang bekas seharga 99 yuan per buah, lalu menjual 200 buah.
Kisah seperti ini paling mudah dibaca sebagai “usaha sampingan yang menguntungkan”. Tapi yang saya lihat justru soal penetapan harga. Harga 99 yuan ini dipatok dengan cerdik: cukup murah sehingga orang tak perlu membanding-bandingkan, tapi cukup mahal sehingga orang percaya ini bukan barang gratisan. Pembeli bukan membeli perangkat lunaknya, melainkan “terhindar dari repot sekali”.
Yang benar-benar sulit bukanlah membuat alat, melainkan menemukan orang-orang yang sedang dibuat pusing oleh masalah kecil yang sama. Dari orang-orang yang membuat alat, sembilan dari sepuluh gagal karena “saya membuat sesuatu yang keren, tapi tak ada yang membutuhkannya”.
Jadi, jangan belajar menulis kode dulu. Belajarlah menyimak diam-diam di grup, lalu catat masalah kecil yang terus-menerus dikeluhkan semua orang. Kebutuhan itu gratis, dan sekarang kode pun hampir gratis.
Kisah seperti ini paling mudah dibaca sebagai “usaha sampingan yang menguntungkan”. Tapi yang saya lihat justru soal penetapan harga. Harga 99 yuan ini dipatok dengan cerdik: cukup murah sehingga orang tak perlu membanding-bandingkan, tapi cukup mahal sehingga orang percaya ini bukan barang gratisan. Pembeli bukan membeli perangkat lunaknya, melainkan “terhindar dari repot sekali”.
Yang benar-benar sulit bukanlah membuat alat, melainkan menemukan orang-orang yang sedang dibuat pusing oleh masalah kecil yang sama. Dari orang-orang yang membuat alat, sembilan dari sepuluh gagal karena “saya membuat sesuatu yang keren, tapi tak ada yang membutuhkannya”.
Jadi, jangan belajar menulis kode dulu. Belajarlah menyimak diam-diam di grup, lalu catat masalah kecil yang terus-menerus dikeluhkan semua orang. Kebutuhan itu gratis, dan sekarang kode pun hampir gratis.
