Kisah Koin Micin

Pukul tiga dini hari, cahaya layar ponsel menerangi wajah Chen Mo. Selama empat jam berturut-turut ia menelusuri Binance Square. Kelopak matanya terasa berat, tetapi jari-jarinya tak bisa berhenti.

Sebuah unggahan menarik perhatiannya: HAEDAL, koin kecil yang baru listing, harganya hanya beberapa sen dolar. Kolom komentarnya penuh dengan tulisan “koin yang bisa naik seratus kali lipat” dan “PEPE berikutnya”. Chen Mo tahu betul, koin micin seperti ini peluang selamatnya kecil. Namun, melihat deretan lilin hijau di grafik K-line, tangannya mulai gatal.

“Coba beli senilai lima ratus yuan saja,” katanya pada diri sendiri.

Lima ratus yuan berubah menjadi seribu, lalu seribu menjadi tiga ribu. HAEDAL melesat dari 0.021 hingga 0.033, dan angka di akunnya seolah meluncur seperti roket. Tangannya gemetar, bukan karena takut, melainkan karena kegirangan. Ia mulai membayangkan cara menulis surat pengunduran diri, juga membayangkan ekspresi orang-orang yang pernah mengejeknya saat ia memamerkan keuntungannya di linimasa.

“Tunggu lagi, masih bisa naik.” Ia mengubah target ambil untung dari lima puluh persen menjadi seratus persen.

Keesokan paginya, HAEDAL melonjak hingga 0.03395. Chen Mo begitu bersemangat sampai hampir menjatuhkan ponselnya. Namun, ia tidak menjual. Menurutnya, harga itu baru permulaan; targetnya setidaknya 0.1.

Lalu, harga pun anjlok.

Tanpa tanda apa pun, sebuah lilin merah panjang menjatuhkan harga langsung dari 0.033 ke 0.025. Chen Mo menatap layar, pikirannya kosong. Jarinya menggantung di atas tombol jual, tetapi ia tak sanggup menekannya. Ia menunggu pantulan harga, menunggu kesempatan untuk balik modal.

Pantulan itu tak kunjung datang.

HAEDAL terus merosot: 0.024, 0.023, 0.021. Ia membelinya di harga 0.022, dan kini harga itu bahkan nyaris menembus batas modalnya. Hatinya terasa diremas oleh tangan tak kasatmata, sampai-sampai ia sulit bernapas.

“Jual saja, terima kerugiannya,” seru akal sehatnya.

“Tunggu lagi, nanti juga naik,” kata keserakahannya.

Ia memilih menunggu.

Seminggu kemudian, HAEDAL turun ke 0.018. Lima ratus yuannya kini tersisa kurang dari dua ratus. Akhirnya Chen Mo menekan tombol jual, dengan jari yang terasa dingin. Saat transaksi selesai, ia merasa ada sesuatu di dalam dirinya yang hancur.

Ia membuka Binance Square untuk melihat cara orang lain bertransaksi. Sebuah unggahan berbunyi, “Saya sudah menjual semuanya di 0.033 dan untung enam puluh persen.” Chen Mo menatap tulisan itu, matanya terasa perih.

Malam itu, ia tak lagi menyentuh ponselnya. Berbaring di tempat tidur, ia terus memikirkan satu pertanyaan: kalau saja waktu itu ia memasang target ambil untung, apa yang akan terjadi sekarang?

Tiga bulan kemudian, harga HAEDAL kembali ke 0.029. Chen Mo sudah lama tak lagi mengikuti koin itu. Di akunnya kini ada tumpukan token asing lainnya. Setiap transaksi punya cerita “kali ini berbeda”.

Akhirnya ia memahami satu hal: di dunia kripto, yang membuatmu rugi bukanlah pasar, melainkan dirimu sendiri yang tak mau menekan tombol jual.

#HAEDAL #土狗币 #LikuidasiPosisiFutures