Hal paling menakjubkan dari gelombang AI adalah ia selalu mampu menghadirkan kegembiraan sekaligus rasa frustrasi.

Saat alat baru muncul, kita langsung tenggelam menggunakannya dan merasa seolah-olah mendadak menjadi lebih hebat. Hal-hal yang dulu tak sanggup diselesaikan seorang diri kini bisa beres dalam beberapa menit, seakan-akan tiba-tiba kita punya satu tim.

Namun, setelah cukup lama menggunakannya, kita mulai melihat sisi lain: keterampilan yang kita asah selama bertahun-tahun mungkin berubah menjadi fitur dasar sebuah alat hanya karena satu kali pembaruan model. Kemampuan yang dulu perlu diasah berulang kali kini tinggal menjadi sebuah kotak masukan.

Alat semakin canggih, semakin banyak hal yang bisa dilakukan manusia, tetapi keahlian yang dulu menjadi landasan rasa percaya diri kita juga perlahan bisa kehilangan keistimewaannya.

Akibatnya, perasaan yang muncul dari kemajuan teknologi pun mulai terombang-ambing: di satu sisi kita bersemangat karena batas kemampuan berhasil ditembus, di sisi lain kita khawatir sedang didefinisikan ulang oleh alat.

Mungkin karena itulah, justru di zaman seperti ini, kita semakin perlu menjauh dari layar dengan sengaja.

Tidur yang cukup, makan dengan baik, berjalan-jalan di luar ruangan, membaca buku-buku yang perlu waktu untuk dicerna, dan menikmati hembusan angin dalam keheningan.

Hal-hal ini tak akan menjadi usang karena peningkatan model, dan nilainya pun tak perlu dibuktikan lewat efisiensi.

AI bisa membantu kita membuat dunia bergerak lebih cepat, tetapi kita tak perlu menjadikan diri sendiri mesin yang terus-menerus mengejar peningkatan.

Teknologi bertugas mempercepat, sedangkan hidup membantu kita merasakan waktu.