“Kutukan pemilu paruh waktu AS” bagi Bitcoin telah terjadi empat kali berturut-turut.
Pada 2010, BTC turun 72%.
Pada 2014, BTC turun 65%.
Pada 2018, BTC turun 52%.
Pada 2022, BTC turun 27%.
Empat siklus, empat kali penurunan yang signifikan.
Namun, jika angka-angka ini disandingkan, ada detail lain yang terlihat: penurunannya berangsur menyusut dari 72% menjadi 27%. Arahnya tidak berubah, tetapi kekuatan koreksinya melemah.
Lalu, apakah BTC akan kembali turun pada 2026?
Kinerja historis dalam empat kesempatan ini memang layak diteliti, tetapi belum cukup untuk membuktikan adanya hubungan sebab-akibat yang konsisten antara pemilu paruh waktu dan penurunan BTC. Suku bunga, likuiditas, kondisi ekonomi makro, alokasi dana, serta siklus pasar kripto itu sendiri dapat memengaruhi harga Bitcoin.
Penurunan yang berangsur menyusut juga bukan berarti penurunan berikutnya pasti lebih kecil. Sampelnya terbatas, jadi perubahan di masa lalu tidak bisa langsung dianggap sebagai pola yang akan terulang di masa depan.
Jika hanya melihat empat kali penurunan berturut-turut, kita bisa dengan mudah diliputi rasa takut. Sebaliknya, jika hanya melihat penurunan yang terus menyusut, kita mungkin meremehkan risikonya.
Tren historis dapat membantu kita mengenali risiko, tetapi tidak menjamin bahwa hal yang sama akan terulang di masa depan. Daripada memercayai “kutukan” pemilu, lebih baik siapkan rencana trading sendiri.
Pada 2010, BTC turun 72%.
Pada 2014, BTC turun 65%.
Pada 2018, BTC turun 52%.
Pada 2022, BTC turun 27%.
Empat siklus, empat kali penurunan yang signifikan.
Namun, jika angka-angka ini disandingkan, ada detail lain yang terlihat: penurunannya berangsur menyusut dari 72% menjadi 27%. Arahnya tidak berubah, tetapi kekuatan koreksinya melemah.
Lalu, apakah BTC akan kembali turun pada 2026?
Kinerja historis dalam empat kesempatan ini memang layak diteliti, tetapi belum cukup untuk membuktikan adanya hubungan sebab-akibat yang konsisten antara pemilu paruh waktu dan penurunan BTC. Suku bunga, likuiditas, kondisi ekonomi makro, alokasi dana, serta siklus pasar kripto itu sendiri dapat memengaruhi harga Bitcoin.
Penurunan yang berangsur menyusut juga bukan berarti penurunan berikutnya pasti lebih kecil. Sampelnya terbatas, jadi perubahan di masa lalu tidak bisa langsung dianggap sebagai pola yang akan terulang di masa depan.
Jika hanya melihat empat kali penurunan berturut-turut, kita bisa dengan mudah diliputi rasa takut. Sebaliknya, jika hanya melihat penurunan yang terus menyusut, kita mungkin meremehkan risikonya.
Tren historis dapat membantu kita mengenali risiko, tetapi tidak menjamin bahwa hal yang sama akan terulang di masa depan. Daripada memercayai “kutukan” pemilu, lebih baik siapkan rencana trading sendiri.