#BOYCOTTPUMPFUN dirangkum oleh media sebagai “gelombang boikot mulai membesar”. Aku menelusuri tagarnya satu per satu. Sejujurnya, ini cuma cari validasi sendiri.

Logika penggagasnya, Jack Duval, begini: kalau semua orang berhenti selama seminggu, pendapatan Pump.fun bisa dipangkas lebih dari 90%, sehingga mereka terpaksa menepati janji soal airdrop dan hal-hal lain yang terus ditunda. Kedengarannya membakar semangat.

Tapi coba buka tagarnya. Aksi ini dimulai sekitar 7 Oktober. Kebanyakan orang cuma melempar satu tagar ke kolom komentar orang lain, tanpa menulis apa pun. Ada satu akun yang mengunggah beberapa kali selama lebih dari seminggu, dan tiap unggahan hanya mendapat 1, 2, 4, atau 9 tayangan. Akun lain juga terus mengunggah, tapi tayangannya cuma satuan sampai puluhan. Ini bukan gerakan, cuma beberapa orang meneriakkan slogan di ruangan kosong.

Yang lebih penting, volume Pump.fun selama ini memang bukan ditopang oleh orang-orang yang menyerukan boikot. Pihak yang benar-benar menyumbang sebagian besar biaya transaksi adalah bot sniper, pembuat token massal, dan skrip penggelembung volume. Mereka tidak berkicau di Twitter, apalagi “bersatu padu”. Kalau kamu berhenti seminggu, artinya kamu menyerahkan tempatmu kepada bot, sementara platform tetap meraup uang.

Volumenya memang sedang turun, jatuh di bawah US$400 juta dalam 24 jam. Pump.fun lalu menggelontorkan US$2,5 juta untuk menggelar Squads Invitational dan menarik orang kembali. Yang mereka pedulikan adalah volume, bukan tagarmu. Kalau ingin membuat mereka merasakan dampaknya, uang harus benar-benar pergi, bukan cuma bikin unggahan bilang akan pergi.

Soal airdrop, sejak awal sampai sekarang itu cuma wortel untuk membuatmu terus bertransaksi. Buat yang masih menunggu, coba pikirkan dulu apakah wortel ini sudah terlalu lama membuatmu terus mengejarnya.