Bagi pasar, hal yang paling ditakuti bukanlah kabar buruk yang jelas, melainkan ketidakpastian. Situasi Brent terkait hubungan AS-Iran saat ini memang seperti itu!
Sebelum pemilu paruh waktu berakhir, AS dan Iran sama-sama kerap mengirimkan sinyal keras ke pasar. AS menyampaikan niat untuk menyerang melalui media dan mengevakuasi diplomat beserta keluarga mereka, sementara Iran mengangkat niat untuk “memutus kabel bawah laut”.
Jika hanya melihat berita yang beredar, kedua pihak tampak akan bertarung sampai salah satunya kalah. Namun, di sisi lain, para mediator aktif melakukan upaya mediasi. AS dan Iran belum secara tegas menutup peluang dialog, sehingga masih ada sedikit harapan untuk membuka jalan bagi negosiasi.
Inilah yang paling dikhawatirkan pasar: belum ada kepastian apakah AS dan Iran benar-benar akan berperang sebelum atau sesudah pemilu paruh waktu. Ketidakpastian ini membuat penetapan harga minyak mentah menjadi lebih rumit.
Selain niat untuk berperang, data pelayaran aktual di Selat Hormuz pada Oktober juga mencatat kerugian terbesar sejak perang meletus tahun ini. Berdasarkan perhitungan awal, sebanyak 28 kapal diserang sepanjang Oktober saja, dari total 113 kapal yang rusak selama perang AS-Iran. Artinya, seperempat dari seluruh kapal yang rusak terjadi pada Oktober.
Hal ini membuat pasar energi semakin rumit: pasokan energi yang terganggu dan kendala transportasi energi mendorong kenaikan harga, sementara ketidakpastian perang AS-Iran membuat penetapan harga oleh pelaku pasar semakin diliputi kepanikan dan kerumitan. Akibatnya, saat ini harga Brent dan WTI memuat terlalu banyak premi risiko perang.
Terkait Rusia-Ukraina, pada tanggal 27 bulan ini akan diberlakukan gencatan senjata lokal sementara di garis depan. Hal ini dipandang sebagai pemulihan perundingan damai Rusia-Ukraina ke tahap perundingan teknis. Namun, dampaknya terhadap pasar energi maupun pasar keuangan sangat terbatas. Faktor utama yang menentukan situasi energi dan geopolitik tetap bergantung pada hubungan AS-Iran!#股票财报季
Sebelum pemilu paruh waktu berakhir, AS dan Iran sama-sama kerap mengirimkan sinyal keras ke pasar. AS menyampaikan niat untuk menyerang melalui media dan mengevakuasi diplomat beserta keluarga mereka, sementara Iran mengangkat niat untuk “memutus kabel bawah laut”.
Jika hanya melihat berita yang beredar, kedua pihak tampak akan bertarung sampai salah satunya kalah. Namun, di sisi lain, para mediator aktif melakukan upaya mediasi. AS dan Iran belum secara tegas menutup peluang dialog, sehingga masih ada sedikit harapan untuk membuka jalan bagi negosiasi.
Inilah yang paling dikhawatirkan pasar: belum ada kepastian apakah AS dan Iran benar-benar akan berperang sebelum atau sesudah pemilu paruh waktu. Ketidakpastian ini membuat penetapan harga minyak mentah menjadi lebih rumit.
Selain niat untuk berperang, data pelayaran aktual di Selat Hormuz pada Oktober juga mencatat kerugian terbesar sejak perang meletus tahun ini. Berdasarkan perhitungan awal, sebanyak 28 kapal diserang sepanjang Oktober saja, dari total 113 kapal yang rusak selama perang AS-Iran. Artinya, seperempat dari seluruh kapal yang rusak terjadi pada Oktober.
Hal ini membuat pasar energi semakin rumit: pasokan energi yang terganggu dan kendala transportasi energi mendorong kenaikan harga, sementara ketidakpastian perang AS-Iran membuat penetapan harga oleh pelaku pasar semakin diliputi kepanikan dan kerumitan. Akibatnya, saat ini harga Brent dan WTI memuat terlalu banyak premi risiko perang.
Terkait Rusia-Ukraina, pada tanggal 27 bulan ini akan diberlakukan gencatan senjata lokal sementara di garis depan. Hal ini dipandang sebagai pemulihan perundingan damai Rusia-Ukraina ke tahap perundingan teknis. Namun, dampaknya terhadap pasar energi maupun pasar keuangan sangat terbatas. Faktor utama yang menentukan situasi energi dan geopolitik tetap bergantung pada hubungan AS-Iran!#股票财报季