Legenda Koin Shitcoin
Pukul tiga dini hari, di kamar kontrakan di kawasan permukiman padat Shenzhen, Chen Hao menatap layar ponselnya dengan mata merah penuh urat.
BTC sudah naik ke 81.440 dolar, ETH juga bertahan di 2.389. Seluruh pasar kripto sedang bersorak gembira, tetapi saldo akunnya hanya tersisa sedikit di atas 300 U. Tiga bulan lalu, ia masih punya 20.000 U, tetapi semuanya habis karena trading kontrak. Waktu itu ia membuka posisi short ETH dengan leverage 50x. Sekali harga menyentuh batas likuidasi, posisinya langsung dilikuidasi—bahkan marginnya pun tak tersisa.
Ia bersumpah tak akan menyentuh kontrak lagi.
Malam itu, saat menelusuri forum kripto, ia menemukan sebuah unggahan. Seseorang mengatakan bahwa tim proyek GTC terus melakukan pembelian kembali di blockchain dan data on-chain-nya sangat sehat. Chen Hao mengekliknya untuk melihat-lihat. Saat itu, harga GTC baru 0,25 dan kapitalisasi pasarnya belum mencapai 20 juta. Ia teringat koin-koin yang pernah ia lewatkan dan kemudian naik ratusan kali lipat: PEPE, WIF—bukankah semuanya mulai naik saat tak ada yang percaya?
"Toh tinggal 300 U. Kalau habis ya sudah."
Ia membuka Binance dan membeli GTC dengan seluruh saldo yang tersisa. Harga rata-rata transaksinya 0,2526. Setelah membeli, ia melempar ponselnya ke samping, lalu berbaring di tempat tidur sambil menatap langit-langit. Sejujurnya, ia sama sekali tak berharap banyak. Anggap saja ia membeli tiket lotre.
Keesokan paginya pukul tujuh, ia terbangun oleh alarm dan seperti biasa meraih ponselnya.
GTC, 0,31. Naik lebih dari 20 persen.
Ia mengucek mata, mengira dirinya salah lihat. Ia menyegarkan layar sekali lagi: 0,315. Jantungnya mulai berdebar kencang.
Menjelang tengah hari, GTC sudah melesat ke 0,33. Ia mengirim pesan ke grup: "Bro, sepertinya GTC bakal terbang." Tak ada yang membalas. Semua orang mengira ini cuma pantulan kecil.
Pukul dua siang, berbagai influencer kripto mulai mengunggah analisis tentang GTC. Data pembelian kembali on-chain pun terungkap, dan antusiasme komunitas langsung meledak. Harganya melesat seperti roket: 0,34, 0,345, 0,3478.
Tangan Chen Hao gemetar.
Ia ingin menjual, tapi merasa harganya masih bisa naik. Ia ingin menambah posisi, tapi uangnya sudah habis. Ia hanya bisa menatap grafik candlestick yang terus bergerak naik menit demi menit. Setiap lilin hijau terasa seperti mengejek uang yang dulu hilang darinya.
Pukul sebelas malam, GTC sempat mencapai puncak 0,3478, hampir 40 persen lebih tinggi dari harga belinya.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu memasang order jual di 0,342. Menjual semuanya.
Saat transaksi berhasil, ia menatap saldo akunnya yang bertambah lebih dari 400 U, lalu tiba-tiba tertawa. Jumlahnya memang tidak banyak, sungguh tidak banyak. Tapi inilah pertama kalinya dalam tiga bulan ia mendapat untung.
Ia membuka aplikasi catatan dan menulis satu kalimat: Jangan mengejar harga yang sedang naik, jangan pakai leverage, jangan all-in. Hanya mereka yang sanggup menunggu yang pantas menghasilkan uang.
Lalu ia mematikan ponselnya dan tertidur lelap. Di luar jendela, lampu-lampu neon Shenzhen masih berkelap-kelip, sementara ia sudah lama tak pernah tidur setenang ini.
#BinancePick #EarningsSeason #CryptoStory
Pukul tiga dini hari, di kamar kontrakan di kawasan permukiman padat Shenzhen, Chen Hao menatap layar ponselnya dengan mata merah penuh urat.
BTC sudah naik ke 81.440 dolar, ETH juga bertahan di 2.389. Seluruh pasar kripto sedang bersorak gembira, tetapi saldo akunnya hanya tersisa sedikit di atas 300 U. Tiga bulan lalu, ia masih punya 20.000 U, tetapi semuanya habis karena trading kontrak. Waktu itu ia membuka posisi short ETH dengan leverage 50x. Sekali harga menyentuh batas likuidasi, posisinya langsung dilikuidasi—bahkan marginnya pun tak tersisa.
Ia bersumpah tak akan menyentuh kontrak lagi.
Malam itu, saat menelusuri forum kripto, ia menemukan sebuah unggahan. Seseorang mengatakan bahwa tim proyek GTC terus melakukan pembelian kembali di blockchain dan data on-chain-nya sangat sehat. Chen Hao mengekliknya untuk melihat-lihat. Saat itu, harga GTC baru 0,25 dan kapitalisasi pasarnya belum mencapai 20 juta. Ia teringat koin-koin yang pernah ia lewatkan dan kemudian naik ratusan kali lipat: PEPE, WIF—bukankah semuanya mulai naik saat tak ada yang percaya?
"Toh tinggal 300 U. Kalau habis ya sudah."
Ia membuka Binance dan membeli GTC dengan seluruh saldo yang tersisa. Harga rata-rata transaksinya 0,2526. Setelah membeli, ia melempar ponselnya ke samping, lalu berbaring di tempat tidur sambil menatap langit-langit. Sejujurnya, ia sama sekali tak berharap banyak. Anggap saja ia membeli tiket lotre.
Keesokan paginya pukul tujuh, ia terbangun oleh alarm dan seperti biasa meraih ponselnya.
GTC, 0,31. Naik lebih dari 20 persen.
Ia mengucek mata, mengira dirinya salah lihat. Ia menyegarkan layar sekali lagi: 0,315. Jantungnya mulai berdebar kencang.
Menjelang tengah hari, GTC sudah melesat ke 0,33. Ia mengirim pesan ke grup: "Bro, sepertinya GTC bakal terbang." Tak ada yang membalas. Semua orang mengira ini cuma pantulan kecil.
Pukul dua siang, berbagai influencer kripto mulai mengunggah analisis tentang GTC. Data pembelian kembali on-chain pun terungkap, dan antusiasme komunitas langsung meledak. Harganya melesat seperti roket: 0,34, 0,345, 0,3478.
Tangan Chen Hao gemetar.
Ia ingin menjual, tapi merasa harganya masih bisa naik. Ia ingin menambah posisi, tapi uangnya sudah habis. Ia hanya bisa menatap grafik candlestick yang terus bergerak naik menit demi menit. Setiap lilin hijau terasa seperti mengejek uang yang dulu hilang darinya.
Pukul sebelas malam, GTC sempat mencapai puncak 0,3478, hampir 40 persen lebih tinggi dari harga belinya.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu memasang order jual di 0,342. Menjual semuanya.
Saat transaksi berhasil, ia menatap saldo akunnya yang bertambah lebih dari 400 U, lalu tiba-tiba tertawa. Jumlahnya memang tidak banyak, sungguh tidak banyak. Tapi inilah pertama kalinya dalam tiga bulan ia mendapat untung.
Ia membuka aplikasi catatan dan menulis satu kalimat: Jangan mengejar harga yang sedang naik, jangan pakai leverage, jangan all-in. Hanya mereka yang sanggup menunggu yang pantas menghasilkan uang.
Lalu ia mematikan ponselnya dan tertidur lelap. Di luar jendela, lampu-lampu neon Shenzhen masih berkelap-kelip, sementara ia sudah lama tak pernah tidur setenang ini.
#BinancePick #EarningsSeason #CryptoStory