#ChineseAI 🐇🐇🐇🐇🐇🥡🥡🥡
₿ ⚖️ Tiongkok berupaya menyita 61.800 BTC: siapa yang akan mendapatkan bitcoin tersebut? ⚖️ ₿
Bayangkan menemukan kekayaan dalam bentuk bitcoin, lalu mengetahui bahwa masa depannya tidak ditentukan oleh pasar, melainkan oleh pengadilan yang berada ribuan kilometer jauhnya. Itulah dilema terkait lebih dari 61.800 BTC yang kini terjebak dalam sengketa hukum lintas negara.
Jaksa Tiongkok berupaya menyita bitcoin yang terkait dengan dugaan penipuan investasi senilai sekitar 5,7 miliar dolar AS. Menurut laporan, skema yang terkait dengan Qian Zhimin itu merugikan lebih dari 102.000 investor antara tahun 2014 dan 2017.
Pihak berwenang Inggris menyita bitcoin tersebut, dan persoalan hukumnya masih jauh dari penyelesaian. Putusan Pengadilan Tinggi Inggris menetapkan bahwa klaim kepemilikan yang mendasari tuntutan para korban harus diatur oleh hukum Tiongkok, sementara proses hukum telah dimulai di Tiongkok, yang membuka tenggat enam bulan bagi pihak-pihak terdampak untuk berpartisipasi.
Persoalan sebenarnya bukan sekadar siapa yang mengendalikan koin-koin tersebut, melainkan siapa yang memiliki hak sah atasnya. Proses penyitaan tidak serta-merta berarti bitcoin itu akan menjadi milik Pemerintah Tiongkok atau para korban akan segera menerima kompensasi.
Bagi pasar bitcoin, jumlahnya sangat besar, tetapi dampak langsungnya terhadap pasokan belum pasti. Koin-koin tersebut sudah disita, dan perkembangan hukum ini tidak dengan sendirinya menetapkan bahwa koin-koin itu akan dijual atau dipindahkan ke bursa.
Hasilnya juga dapat menjadi preseden penting tentang cara pengadilan menangani mata uang kripto yang terkait dengan dugaan kejahatan lintas batas negara.
Ketika miliaran dalam bentuk mata uang kripto dipersengketakan, kepemilikan lebih penting daripada saldo dompet.
$BTC
$ZEC
₿ ⚖️ Tiongkok berupaya menyita 61.800 BTC: siapa yang akan mendapatkan bitcoin tersebut? ⚖️ ₿
Bayangkan menemukan kekayaan dalam bentuk bitcoin, lalu mengetahui bahwa masa depannya tidak ditentukan oleh pasar, melainkan oleh pengadilan yang berada ribuan kilometer jauhnya. Itulah dilema terkait lebih dari 61.800 BTC yang kini terjebak dalam sengketa hukum lintas negara.
Jaksa Tiongkok berupaya menyita bitcoin yang terkait dengan dugaan penipuan investasi senilai sekitar 5,7 miliar dolar AS. Menurut laporan, skema yang terkait dengan Qian Zhimin itu merugikan lebih dari 102.000 investor antara tahun 2014 dan 2017.
Pihak berwenang Inggris menyita bitcoin tersebut, dan persoalan hukumnya masih jauh dari penyelesaian. Putusan Pengadilan Tinggi Inggris menetapkan bahwa klaim kepemilikan yang mendasari tuntutan para korban harus diatur oleh hukum Tiongkok, sementara proses hukum telah dimulai di Tiongkok, yang membuka tenggat enam bulan bagi pihak-pihak terdampak untuk berpartisipasi.
Persoalan sebenarnya bukan sekadar siapa yang mengendalikan koin-koin tersebut, melainkan siapa yang memiliki hak sah atasnya. Proses penyitaan tidak serta-merta berarti bitcoin itu akan menjadi milik Pemerintah Tiongkok atau para korban akan segera menerima kompensasi.
Bagi pasar bitcoin, jumlahnya sangat besar, tetapi dampak langsungnya terhadap pasokan belum pasti. Koin-koin tersebut sudah disita, dan perkembangan hukum ini tidak dengan sendirinya menetapkan bahwa koin-koin itu akan dijual atau dipindahkan ke bursa.
Hasilnya juga dapat menjadi preseden penting tentang cara pengadilan menangani mata uang kripto yang terkait dengan dugaan kejahatan lintas batas negara.
Ketika miliaran dalam bentuk mata uang kripto dipersengketakan, kepemilikan lebih penting daripada saldo dompet.
$BTC
$ZEC