Trump mengunggah manifesto di Truth Social tengah malam. Intinya cuma satu: harga minyak naik setinggi ini, Iran harus disalahkan.
Ia menuduh Iran "melakukan segala cara untuk mendongkrak harga minyak sebelum pemilu paruh waktu", bahkan mengarang soal serangan palsu dan ranjau laut—alasannya, volume minyak yang melewati Selat Hormuz sekarang malah lebih besar daripada sebelum perang.
Menurut saya, taktik ini bisa disebut "lempar kesalahan dulu, lalu pasang batas".
Saat mengisi bensin, para pemilih cuma melihat angka dan mengumpat. Menjelang pemilu paruh waktu 3 November, minyak seharga 110 dolar per barel adalah lonceng kematian bagi Partai Republik. Kalau kesalahannya tak dilempar ke pihak lain, mereka sendiri yang harus menanggung akibatnya di kotak suara.
Detail menariknya: soal 75.000 demonstran yang tewas, dalam rapat umum di Kansas pada Senin ia bilang "delapan bulan", tapi hari ini berubah jadi "tujuh bulan"—rupanya angka bisa membaca kalender sendiri. Benar-benar bulan ala Schrödinger.
Sekadar mengingatkan: awal bulan ini ia juga bilang harga minyak tinggi karena Ukraina mengebom kilang minyak Rusia. Peta untuk melempar kesalahan ini berganti versi setiap bulan.
Sementara itu, televisi nasional Iran baru saja melaporkan bahwa tujuh kapal tanker minyak rusak dalam semalam di Hormuz. Garda Revolusi juga memperingatkan AS agar jangan membiarkan orang masuk ke "jalur ranjau laut".
Yang satu bilang "semuanya cuma sandiwara", yang lain bilang "benar-benar dibom". Masing-masing punya alasan sendiri—pada akhirnya, harga minyak hanya peduli pada data persediaan dan pelayaran, bukan omong kosong.
Menurutmu, siapa yang menyulut gejolak minyak ini menjelang pemilu paruh waktu—serangan palsu Iran atau taktik Trump untuk melempar kesalahan?
Pemilu paruh waktu AS | Harga minyak Iran
#川普 #Harga minyak 110 dolar
Ia menuduh Iran "melakukan segala cara untuk mendongkrak harga minyak sebelum pemilu paruh waktu", bahkan mengarang soal serangan palsu dan ranjau laut—alasannya, volume minyak yang melewati Selat Hormuz sekarang malah lebih besar daripada sebelum perang.
Menurut saya, taktik ini bisa disebut "lempar kesalahan dulu, lalu pasang batas".
Saat mengisi bensin, para pemilih cuma melihat angka dan mengumpat. Menjelang pemilu paruh waktu 3 November, minyak seharga 110 dolar per barel adalah lonceng kematian bagi Partai Republik. Kalau kesalahannya tak dilempar ke pihak lain, mereka sendiri yang harus menanggung akibatnya di kotak suara.
Detail menariknya: soal 75.000 demonstran yang tewas, dalam rapat umum di Kansas pada Senin ia bilang "delapan bulan", tapi hari ini berubah jadi "tujuh bulan"—rupanya angka bisa membaca kalender sendiri. Benar-benar bulan ala Schrödinger.
Sekadar mengingatkan: awal bulan ini ia juga bilang harga minyak tinggi karena Ukraina mengebom kilang minyak Rusia. Peta untuk melempar kesalahan ini berganti versi setiap bulan.
Sementara itu, televisi nasional Iran baru saja melaporkan bahwa tujuh kapal tanker minyak rusak dalam semalam di Hormuz. Garda Revolusi juga memperingatkan AS agar jangan membiarkan orang masuk ke "jalur ranjau laut".
Yang satu bilang "semuanya cuma sandiwara", yang lain bilang "benar-benar dibom". Masing-masing punya alasan sendiri—pada akhirnya, harga minyak hanya peduli pada data persediaan dan pelayaran, bukan omong kosong.
Menurutmu, siapa yang menyulut gejolak minyak ini menjelang pemilu paruh waktu—serangan palsu Iran atau taktik Trump untuk melempar kesalahan?
Pemilu paruh waktu AS | Harga minyak Iran
#川普 #Harga minyak 110 dolar