XRP diperdagangkan lebih rendah pada awal perdagangan Selasa sebelum memulihkan sebagian kerugiannya, sementara pasar mata uang kripto secara keseluruhan tertekan oleh kenaikan harga minyak dan kekhawatiran tentang selera risiko global.

Pelemahan pasar ini terjadi ketika analis kripto “Ellio Trades” memperingatkan bahwa XRP pada akhirnya bisa kehilangan posisinya di antara mata uang kripto terbesar jika Ripple gagal mengubah kemitraan dan infrastruktur blockchain-nya menjadi permintaan token yang signifikan.

Dalam video YouTube pada Senin, Ellio berpendapat bahwa jaringan pesaing tengah berkembang di bidang layanan keuangan dan tokenisasi aset dunia nyata (RWA), dua area yang erat kaitannya dengan narasi investasi XRP sejak lama.

“Ancaman terbesar bagi XRP bisa jadi adalah kripto lain yang menghadirkan hal-hal yang telah diharapkan para pemegang XRP selama hampir satu dekade,” katanya.

Analis tersebut memperingatkan bahwa investor XRP bisa kehilangan peluang pertumbuhan di tempat lain jika proyek pesaing berhasil menarik bisnis, pengembang, dan modal institusional sementara ekosistem XRP kesulitan berkembang.

Ellio mempertanyakan apakah XRP dapat mempertahankan peran tradisionalnya sebagai mata uang kripto yang dirancang untuk mendukung pembayaran internasional, terutama karena stablecoin semakin banyak digunakan untuk transfer nilai lintas negara.

Berbeda dengan XRP, yang harga pasarnya berfluktuasi, stablecoin seperti USDT milik Tether dan USDC milik Circle dirancang untuk mempertahankan nilai yang relatif stabil terhadap dolar AS. Fitur ini dapat membuatnya lebih cocok untuk pembayaran ketika pengirim dan penerima membutuhkan jumlah penyelesaian yang dapat diprediksi.

Analis tersebut juga berpendapat bahwa beberapa kemitraan Ripple dengan bank telah menguntungkan infrastruktur pembayaran perusahaan itu, tetapi belum tentu menghasilkan permintaan yang sepadan terhadap XRP.

Ia membedakan antara lembaga yang menggunakan RippleNet dan aktivitas di XRP Ledger, serta menyatakan bahwa kemitraan saja tidak menunjukkan apakah token itu sendiri mampu menangkap nilai.

Menurut Ellio, untuk memperkuat posisinya, Ripple harus menunjukkan bahwa teknologinya digunakan dengan cara yang menciptakan permintaan berkelanjutan terhadap mata uang kripto tersebut.

Analis itu juga menyebut tokenisasi aset dunia nyata (RWA)—yang membawa aset seperti saham, obligasi, dan properti ke blockchain—sebagai peluang bagi Ripple. Namun, katanya, XRP Ledger tertinggal dari Ethereum, BNB Chain, dan Solana dalam menarik aset yang ditokenisasi serta membangun pasar yang aktif.

Ellio mengingatkan bahwa total nilai aset yang direpresentasikan di sebuah blockchain belum tentu mencerminkan aktivitas ekonomi yang sesungguhnya. Katanya, XRP perlu menarik aset yang aktif diperdagangkan dan membangun ekosistem tempat bisnis menggunakan jaringan tersebut, alih-alih mengandalkan kemitraan yang berdiri sendiri.

“XRP perlu mengembangkan bisnis ini. Mereka harus naik di papan peringkat,” katanya.

Ia menyarankan agar Ripple mendukung para pengembang, memperluas ekosistemnya, dan menarik lembaga keuangan tradisional besar untuk membangun layanan langsung di XRP Ledger.

Kekhawatiran ini bukan hanya disampaikan Ellio. Anggota komunitas XRP, John Squire, baru-baru ini meminta CEO Ripple Brad Garlinghouse memastikan kemitraan perusahaan memberikan manfaat nyata bagi pemegang token, bukan sekadar menjalin kemitraan.

“Investor XRP sudah lelah,” kata Squire. “Kami percaya pada visi Ripple, tetapi orang-orang perlu melihat kemajuan itu tercermin dalam harga XRP. Harapan harus diikuti hasil, Brad.”

Sementara itu, Santiment baru-baru ini melaporkan bahwa rasio komentar bullish terhadap bearish di media sosial tentang XRP turun menjadi 0,67 pada awal Oktober, angka terendah sejak 17 Agustus. Angka di bawah 1,0 menunjukkan bahwa komentar bearish lebih banyak daripada komentar bullish di berbagai platform media sosial yang dipantau oleh perusahaan analitik tersebut.

Namun, Santiment mencatat bahwa pesimisme yang meluas terkadang dapat membuka peluang yang berlawanan dengan tren, meskipun tidak menjamin pemulihan dalam waktu dekat.

Aktivitas XRP di blockchain juga menunjukkan gambaran yang beragam. Rata-rata bergerak 90 hari arus keluar whale dari Binance dilaporkan turun menjadi $49,7 juta pada Oktober, dari $3,5 miliar pada Februari 2025, saat XRP diperdagangkan di kisaran $3,30.

Arus keluar yang lebih rendah dapat mengindikasikan bahwa investor besar tidak lagi mengakumulasi aset secara agresif, meskipun metrik ini saja tidak dapat memastikan niat mereka.

Dari sisi teknikal, analis Ali Martinez mengidentifikasi $1,25 sebagai level dukungan penting. Menurutnya, bertahan di level itu dapat mendukung pemulihan menuju $2, sementara kenaikan berkelanjutan di atas $1,56 akan memperkuat prospek tersebut. Penurunan di bawah $1,25 dapat membuat XRP berisiko mengalami kerugian lebih lanjut hingga $1.