Malam sebelum pemilihan umum, seseorang mengetuk pintu rumah Anda. Orang itu ramah. Ia tersenyum. Ia menyerahkan sebungkus beras, sebuah amplop, pulsa, dan sebuah janji. “Tidak ada syarat apa pun,” katanya.
Dan Anda merasakan sesuatu: mungkin lega, atau berterima kasih. Jika uang sedang sulit, perasaan itu bukanlah hal yang bodoh. Itu manusiawi. Artikel ini bukan untuk mempermalukan Anda karena merasakannya. Artikel ini ingin mengajukan pertanyaan yang lebih tenang: untuk apa perasaan itu dimanfaatkan?
Mengapa “gratis” begitu ampuh
Kampanye memahami emosi lebih baik daripada kebanyakan dari kita memahami emosi sendiri. Dalam eksperimen yang dilakukan saat pemilihan umum sungguhan, ilmuwan politik Ted Brader menemukan bahwa hanya dengan mengubah musik dan gambar dalam sebuah iklan, sementara kata-katanya tetap sama, respons penonton pun berubah. Antusiasme mendorong orang untuk ikut serta. Rasa takut membuat mereka lebih mudah dibujuk.
Hadiah gratis bekerja melalui perasaan lain: rasa terima kasih. Saat seseorang memberi kita sesuatu, kita ingin membalasnya. Naluri itu tidak salah. Masalahnya muncul ketika orang lain yang menentukan kapan dan bagaimana kita harus membalasnya.
Emosi yang diam-diam menghilang
Setiap pemilih memiliki satu emosi yang membuat para pemimpin tetap bertanggung jawab: kemarahan. Marah karena jalan yang tak kunjung diperbaiki, klinik tanpa obat, dan upah yang terlambat dibayar. Kemarahan itulah yang menggerakkan akuntabilitas.
Sebuah hadiah bisa menggantikan kemarahan itu dengan rasa terima kasih. Sebuah makalah tahun 2022 di Public Choice mencatat bahwa eksperimen terdahulu menemukan bahwa politik uang dapat membuat pemilih kurang bersedia menghukum politisi yang mengambil lebih dari bagian mereka dari sumber daya publik. Kemarahan yang seharusnya tertuju kepada mereka yang berkuasa berubah menjadi utang budi yang kita rasa harus kita balas.
Siapa yang menjadi sasaran tawaran
“Gratis” jarang dibagikan secara acak. Sebuah studi tentang pemilu Kenya tahun 2002 menemukan bahwa orang miskin dan pemilih mengambang di daerah pemilihan dengan persaingan paling ketat adalah sasaran yang paling mungkin dibidik oleh pelaku politik uang. Tawaran diberikan kepada mereka yang paling rentan, dan kepada pemilih yang suaranya paling menentukan.
Pemilih lain juga menyadarinya. Dalam eksperimen laboratorium di Kenya, politik uang berhasil memengaruhi orang-orang yang menerima uang, tetapi membuat mereka yang menolaknya serta mereka yang tak pernah ditawari apa pun berpandangan lebih buruk terhadap kandidat yang berada di baliknya.
Tagihannya datang belakangan
Tak ada yang diberikan pemerintah yang benar-benar gratis. Semuanya dibayar melalui pajak, utang, atau pengurangan anggaran untuk hal lain. Ini bukan alasan untuk menolak pemberian. Ini alasan agar kita diberi tahu harganya sebelum memilih.
Para analis yang mengkaji janji-janji menjelang pemilu mengatakan bahwa dampak penuh biayanya bagi pembayar pajak baru terasa dalam dua belas hingga delapan belas bulan, jauh setelah ucapan terima kasih terlupakan.
Ada pula biaya yang lebih besar. Suara adalah satu-satunya tuas yang dimiliki rakyat biasa untuk mengendalikan mereka yang berkuasa. Begitu suara itu ditukar dengan hadiah untuk satu hari, hampir tak ada lagi yang bisa digunakan untuk menuntut perubahan saat rumah sakit kekurangan staf atau atap sekolah bocor. Pemimpin yang sudah “membayar” kita punya lebih sedikit alasan untuk mendengarkan.
Bantuan sosial bukan musuh
Di sini, kejujuran itu penting: tidak semua yang gratis adalah suap. Makanan di sekolah, klinik umum, bantuan pangan bagi mereka yang kelaparan, dan pensiun bagi kaum lanjut usia adalah beberapa hal terpenting yang dilakukan pemerintah. Orang-orang yang beritikad baik pun berbeda pendapat tentang berapa banyak yang harus diberikan dan bagaimana membiayainya. Bahkan pengadilan dan para ekonom mengakui bahwa batas antara “bantuan sosial” dan “pemberian cuma-cuma” itu kabur. Mahkamah Agung India, misalnya, menyatakan bahwa keduanya berbeda dan disiplin keuangan tetap diperlukan, sekaligus menyerukan perdebatan yang lebih luas tentang di mana batasnya.
Jadi, jangan hanya bertanya, “Apakah ini gratis?” Ajukan pertanyaan yang bisa Anda tanyakan kepada partai mana pun, dari kubu mana pun:
1. Siapa yang membayar? Apakah biayanya diumumkan, dan dari mana uangnya berasal?
2. Apakah ini kebijakan atau bantuan khusus? Apakah program ini akan tetap ada pada tahun kedua, atau hanya muncul menjelang pemungutan suara?
3. Apakah ini membangun sesuatu yang bertahan lama? Kesehatan, keterampilan, jalan, atau sesuatu yang lenyap setelah hari pemilu?
4. Siapa yang mendapatkannya? Semua orang yang memenuhi syarat, atau hanya mereka yang suaranya dibutuhkan?
5. Apakah ada sesuatu yang diminta dari saya? Manfaat yang secara terang-terangan atau diam-diam dikaitkan dengan pilihan suara saya bukanlah hadiah. Itu adalah pembelian suara.
Gunakan hati, tetaplah berpikir jernih
Tujuannya bukan menghilangkan emosi saat memilih. Memilih tanpa perasaan sama saja dengan memilih tanpa peduli, padahal kepedulian adalah inti dari semuanya. Tujuannya adalah menempatkan setiap perasaan pada tempatnya: rasakan terima kasih, harapan, dan kemarahan, lalu uji semuanya dengan fakta sebelum memberikan suara.
Jika Anda ditawari uang atau barang sebagai imbalan atas suara Anda, ingatlah bahwa di banyak negara, menawarkan atau menerima bayaran untuk suara merupakan tindak pidana, dan penyelenggara pemilu ingin mengetahuinya. Laporkan.
Nilai sebuah suara
Suara Anda bernilai jalan yang akan Anda lalui, sekolah tempat anak-anak Anda belajar, dan perawatan yang akan diterima orang tua Anda. Jika dijual demi sebungkus beras, suara itu menjadi barang termurah yang pernah Anda miliki sekaligus kehilangan termahal yang pernah Anda alami.
Tak ada yang gratis. Satu-satunya pertanyaan adalah siapa yang menentukan harganya. Pastikan Andalah yang menentukannya.
