💥🪎Kita tahu bahwa emas adalah aset safe haven yang lebih banyak dibeli orang saat perang atau ketika ekonomi sedang buruk, kan?

Namun sekarang situasinya aneh. Ada ketegangan militer di Timur Tengah, harga minyak juga naik, tetapi harga emas justru terus turun.

Emas yang pada Januari 2026 sempat mencapai hampir $5,595 per ons, kini hanya berada di sekitar $4,115 pada 22 Oktober.

Dihitung dari harga tertingginya, penurunannya bahkan mencapai lebih dari 26%.

Kalau begitu, muncul pertanyaan: jika terjadi perang harga emas biasanya naik, lalu mengapa sekarang justru sebaliknya?

Saya akan menjelaskannya dengan mengaitkan analisis Reuters dan Bloomberg dengan perkiraan yang dirilis bank-bank besar.

Pertama-tama, mari kita lihat penyebab utama turunnya harga emas.

Kali ini, yang menekan harga emas bukanlah perang itu sendiri, melainkan harga minyak dan masalah suku bunga AS yang timbul akibat perang.

Begini, ketegangan di Timur Tengah membuat harga minyak naik hingga sekitar $110 per barel.

Ketika harga minyak naik, biaya transportasi, produksi pabrik, dan barang-barang bisa ikut naik. Akibatnya, para investor mulai khawatir inflasi di AS akan kembali meningkat.

Jika inflasi tidak turun, Fed bisa mempertahankan suku bunga tetap tinggi, bahkan menaikkannya lagi jika diperlukan.

Di sinilah masalah bagi emas mulai muncul.

Coba pikirkan baik-baik: jika membeli emas, kita hanya bisa mendapat untung jika harga emas naik. Namun, US Treasury Bond bisa memberikan pendapatan bunga.

Ketika imbal hasil obligasi tersebut naik, sebagian investor mulai lebih tertarik pada obligasi daripada emas.

Karena orang-orang tentu menginginkan keuntungan yang lebih besar.

Di sisi lain, dolar AS juga menguat, sehingga kembali menekan harga emas yang dipatok dalam dolar.

Jadi, meskipun ada permintaan untuk membeli emas karena perang, tekanan dari suku bunga dan dolar lebih besar, sehingga harga emas turun.

Kalau begitu, apakah tidak ada lagi orang yang membeli emas?

Bukan begitu juga.

Menurut laporan World Gold Council tanggal 7 Oktober, harga emas turun 8,5% hanya dalam bulan September.

Namun, pada bulan yang sama, dana sebesar $10 Billion tetap mengalir ke ETF emas.

Menarik, ya. Meski harga emas turun, permintaan terhadap ETF emas ternyata masih ada.

Ini menunjukkan bahwa saat harga emas turun, bukan berarti semua investor tidak lagi menginginkan emas. Sebagian membeli untuk jangka panjang, sementara sebagian trader lainnya mengurangi posisi mereka.

Di pasar seperti ini, perbedaan pandangan membuat kemungkinan seberapa jauh harga bisa turun menjadi semakin menarik untuk dibahas.

Lalu, bagaimana perkiraan bank-bank besar?

Perkiraan Bank of America sangat menarik untuk dibahas, jadi mari kita lihat terlebih dahulu.

Mereka memperkirakan harga emas sekitar $4,000 pada Q4 2026. Mereka juga mengatakan, jika situasinya memburuk, harga bisa turun hingga $3,750.

Namun, harga $3,750 ini bukan harga yang pasti akan tercapai, ya. Mereka hanya mengatakan bahwa harga bisa mencapai level tersebut.

Di sisi lain, JPMorgan memperkirakan rata-rata harga emas pada tiga bulan terakhir 2026 sekitar $4,500.

Goldman Sachs juga menurunkan target harga emas akhir 2026 dari $4,900 menjadi $4,650.

Jadi, bank-bank memang berhati-hati untuk jangka pendek, tetapi bukan berarti semuanya memperkirakan harga emas akan terus turun.

Sebagai contoh, UBS memperkirakan harga emas mungkin kembali menguji level sekitar $4,000 dalam jangka pendek, tetapi untuk September 2027, mereka memperkirakan harganya bisa kembali mencapai $5,400.

Yang perlu diperhatikan di sini adalah periode perkiraan setiap bank berbeda-beda. Perkiraan harga rata-rata juga berbeda dengan target harga akhir tahun.

Karena itu, $3,750 tidak bisa dianggap sebagai harga yang pasti akan tercapai, begitu juga $5,400 tidak seharusnya dianggap sebagai harga yang pasti akan dicapai.

Lalu, level harga mana yang perlu kita pantau sekarang?

Dalam kondisi harga emas saat ini, sekitar $4,100 menjadi level yang perlu dipantau dalam jangka pendek.

Jika harga terus turun dan tidak mampu bertahan di sekitar level itu, $4,000 bisa menjadi level penting berikutnya.

Jika harga minyak terus naik, inflasi tidak turun, dan Fed semakin condong untuk kembali menaikkan suku bunga, kita mungkin perlu mempertimbangkan skenario $3,750 yang disebutkan Bank of America.

Namun, di sisi lain, jika inflasi kembali turun dan imbal hasil Treasury melemah, harga emas bisa kembali menguat.

Karena itu, yang perlu dipantau sekarang adalah pertemuan Fed pada 27–28 Oktober dan data inflasi PCE yang akan dirilis berikutnya.

Data-data ini dapat memengaruhi keputusan Fed terkait suku bunga dan juga penting bagi arah harga emas selanjutnya.

Sebagai rangkuman terakhir,

Harga emas yang sedang turun sekarang bukan berarti nilai emas telah hilang sepenuhnya.

Ketegangan militer mendorong harga minyak naik dan kekhawatiran inflasi meningkat. Ekspektasi suku bunga Fed berubah, sementara imbal hasil Treasury dan dolar menekan harga emas.

Namun, dalam jangka panjang, permintaan emas dari bank sentral, aliran dana ke ETF emas, dan ketidakpastian ekonomi global masih bisa mendukung harga emas.

Di Myanmar, ada satu hal lain yang perlu diperhatikan. Setiap kali harga emas dunia turun, harga emas domestik belum tentu ikut turun dengan cara yang sama, karena juga dipengaruhi oleh nilai tukar USD/MMK dan kondisi pasar dalam negeri.

Jadi, jika kalian sedang mempertimbangkan untuk membeli emas, jangan hanya melihat bahwa harganya sedang turun. Pertimbangkan juga penyebab penurunannya dan kemungkinan kondisi yang akan terjadi selanjutnya.

Menurut kalian, apakah harga emas bisa bertahan kembali di sekitar $4,000, atau masih bisa terus turun hingga $3,750 seperti perkiraan Bank of America?

Bagikan pendapat kalian di kolom komentar di bawah.