Kasus besar Bitcoin lintas Tiongkok-Inggris kini memasuki tahap penyitaan. Kejaksaan Tianjin mengajukan permohonan untuk menyita lebih dari 61.800 BTC dan aset lainnya. Total penipuan yang terkait mencapai lebih dari 40,3 miliar yuan (sekitar 5,7 miliar dolar AS). Pada 13 Oktober, Pengadilan Menengah Kedua Tianjin menerima permohonan penyitaan hasil tindak pidana tersebut dan memulai masa pengumuman selama 6 bulan.

Tokoh utama dalam kasus ini adalah Qian Zhimin, yang dituduh mengendalikan Tianjin Lantian Gerui Electronic Technology. Pada 2014–2017, perusahaan itu menjual produk investasi tanpa izin di seluruh Tiongkok, dengan janji pengembalian tinggi dan jaminan modal, serta menghimpun dana dari lebih dari 102.000 investor. Kerugian para korban hampir mencapai 20 miliar yuan. Dana tersebut diduga digunakan untuk membayar investor terdahulu, membuat proyek investasi fiktif, membeli Bitcoin, serta mengakuisisi properti, mobil, dan perhiasan—bukan untuk diinvestasikan dalam bisnis nyata.

Setelah melarikan diri pada 2017, Qian Zhimin menetap di Inggris. Pihak Inggris telah menyita asetnya, termasuk lebih dari 61.800 BTC, serta BCH/BTG/BSV, XRP, DOGE, uang tunai, perhiasan, dan kepemilikan investasi.

Perkembangan lintas negara juga patut diperhatikan: pada 13 Oktober, Pengadilan Tinggi Inggris memutuskan bahwa klaim korban atas lebih dari 61.000 BTC tunduk pada hukum Tiongkok, bukan hukum Inggris. Pengacara sebagian korban sedang mengupayakan banding. Korban yang tidak ikut serta dalam perkara penyitaan tetap dapat mengajukan permohonan ganti rugi dari aset yang berhasil dipulihkan.

#BTC #比特币 #没收 #Tiongkok