Gejolak kembali terjadi di Timur Tengah. Amerika Serikat mulai mengevakuasi kedutaan, harga minyak langsung melonjak, dan pasar terus memantau apakah situasi akan makin memanas.

Dalam situasi seperti ini, aset berisiko biasanya menjadi yang pertama terpukul. Pasar kripto pun tak luput dari kepanikan jangka pendek. Namun, Bitcoin masih bertahan di atas 84.500 dolar AS, naik 1,5% dalam 24 jam. Ini menunjukkan bahwa investor belum buru-buru menarik dana; sebaliknya, mereka menjadikannya sebagai «emas digital» untuk berlindung dari risiko.

Penilaian saya jelas: dalam jangka pendek, konflik geopolitik akan membuat pasar bergejolak, sementara ekspektasi inflasi akibat kenaikan harga minyak juga akan menyulitkan The Fed. Namun, dalam jangka panjang, semakin lama kekacauan berlangsung, semakin kuat pula narasi Bitcoin sebagai aset lindung nilai. Risiko yang sebenarnya bukanlah perang, melainkan menjual aset karena panik.

Bagi pasar kripto, dalam situasi seperti ini, jangan mengejar kenaikan atau panik menjual. Jaga posisi dengan baik—itu lebih penting daripada apa pun.