#cryptoupdate2 Trading bukan sekadar mempelajari keuangan. Trading juga mempelajari bagaimana orang berperilaku ketika uang dipertaruhkan.
Kamu bisa mempelajari grafik, indikator, support dan resistance, serta struktur pasar. Namun, semua itu tidak otomatis mempersiapkanmu menghadapi apa yang terjadi ketika uangmu mulai bergerak ke arah yang merugikanmu.
Kamu membeli sebuah koin, lalu harganya turun. Tiba-tiba, kamu mulai meragukan analisismu.
Kamu menjual terlalu cepat, sementara harganya terus naik. Sekarang kamu frustrasi karena melewatkan lebih banyak keuntungan.
Kamu meraih beberapa keuntungan, merasa percaya diri, lalu memperbesar ukuran posisimu. Kemudian, satu transaksi yang buruk menghapus sebagian keuntunganmu.
Terdengar familier?
Di sinilah trading berubah menjadi pertarungan psikologis.
Keserakahan membuatmu menginginkan lebih. Rasa takut membuatmu keluar terlalu cepat. Harapan membuatmu terus menahan posisi yang merugi. Ego membuatmu menolak mengakui bahwa kamu salah.
Dan dorongan untuk memulihkan kerugian bisa mengubah trader yang rasional menjadi trader yang impulsif.
Pasar tidak harus mengalahkan strategimu. Terkadang, reaksimu sendirilah yang menyebabkan kerugian.
Itulah sebabnya belajar trading bukan hanya soal memahami pergerakan harga. Ini juga soal memahami dirimu sendiri.
Bisakah kamu menerima kerugian tanpa langsung berusaha memulihkannya?
Bisakah kamu melihat harga koin melonjak tanpa ikut-ikutan mengejarnya?
Bisakah kamu mengambil keuntungan tanpa merasa dirimu jenius, dan menerima kerugian tanpa merasa dirimu gagal?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang membedakan orang yang tahu cara menganalisis grafik dari orang yang tahu cara mengendalikan diri saat trading.
Kamu tidak bisa mengendalikan setiap pergerakan pasar, dan kamu tidak bisa menghilangkan emosi. Namun, kamu bisa belajar agar emosi tidak mengambil keputusan untukmu.
Semakin baik kamu memahami perilakumu sendiri, semakin kecil kemungkinan kamu menjadi musuh terburuk bagi dirimu sendiri di pasar.
Emosi apa yang paling merugikan trader?
$ZEC $MEW $JCT
Kamu bisa mempelajari grafik, indikator, support dan resistance, serta struktur pasar. Namun, semua itu tidak otomatis mempersiapkanmu menghadapi apa yang terjadi ketika uangmu mulai bergerak ke arah yang merugikanmu.
Kamu membeli sebuah koin, lalu harganya turun. Tiba-tiba, kamu mulai meragukan analisismu.
Kamu menjual terlalu cepat, sementara harganya terus naik. Sekarang kamu frustrasi karena melewatkan lebih banyak keuntungan.
Kamu meraih beberapa keuntungan, merasa percaya diri, lalu memperbesar ukuran posisimu. Kemudian, satu transaksi yang buruk menghapus sebagian keuntunganmu.
Terdengar familier?
Di sinilah trading berubah menjadi pertarungan psikologis.
Keserakahan membuatmu menginginkan lebih. Rasa takut membuatmu keluar terlalu cepat. Harapan membuatmu terus menahan posisi yang merugi. Ego membuatmu menolak mengakui bahwa kamu salah.
Dan dorongan untuk memulihkan kerugian bisa mengubah trader yang rasional menjadi trader yang impulsif.
Pasar tidak harus mengalahkan strategimu. Terkadang, reaksimu sendirilah yang menyebabkan kerugian.
Itulah sebabnya belajar trading bukan hanya soal memahami pergerakan harga. Ini juga soal memahami dirimu sendiri.
Bisakah kamu menerima kerugian tanpa langsung berusaha memulihkannya?
Bisakah kamu melihat harga koin melonjak tanpa ikut-ikutan mengejarnya?
Bisakah kamu mengambil keuntungan tanpa merasa dirimu jenius, dan menerima kerugian tanpa merasa dirimu gagal?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang membedakan orang yang tahu cara menganalisis grafik dari orang yang tahu cara mengendalikan diri saat trading.
Kamu tidak bisa mengendalikan setiap pergerakan pasar, dan kamu tidak bisa menghilangkan emosi. Namun, kamu bisa belajar agar emosi tidak mengambil keputusan untukmu.
Semakin baik kamu memahami perilakumu sendiri, semakin kecil kemungkinan kamu menjadi musuh terburuk bagi dirimu sendiri di pasar.
Emosi apa yang paling merugikan trader?
$ZEC $MEW $JCT
Greed
40%
Fear
15%
Hope
10%
Ego
35%
20 Voting • Voting ditutup