Aku tidak takut AI kurang pintar, aku takut AI terlalu boros

Beberapa hari lalu, aku meminta asisten AI membantuku membandingkan harga dan memesan tiket pesawat. Pencariannya cepat dan akurat, tetapi begitu tiba saatnya membayar, prosesnya macet.

Entah aku harus memberikan nomor kartu kredit kepadanya, atau mengonfirmasi sendiri setiap transaksi.

Opsi pertama terasa berisiko, sedangkan opsi kedua membuat penggunaan agen jadi sia-sia.

Ini membuatku sadar bahwa yang benar-benar kurang dalam ekonomi agen bukanlah model yang lebih pintar, melainkan infrastruktur otorisasi.

Kite milik @KITE AI 中文 punya pendekatan yang cukup jelas.

1️⃣ Identitas: Kite Agent Passport mengikat setiap pembayaran dengan siapa yang memberi otorisasi, agen mana yang menjalankannya, dan layanan mana yang menerima pembayaran. Ini adalah penyedia identitas OAuth2 / OpenID Connect standar, sehingga aplikasi yang sudah ada dapat langsung terhubung.

2️⃣ Delegasi dengan batasan: Aku menandatangani satu sesi dengan passkey, lalu menetapkan batas per transaksi, anggaran total, masa berlaku, dan aset yang boleh digunakan. Agen hanya bisa bertindak secara mandiri dalam batas ini. Jika melampaui batas, transaksinya akan langsung diblokir saat dijalankan.

3️⃣ Pembayaran: Pembayaran diselesaikan menggunakan stablecoin seperti USDC. Biaya per transaksi kurang dari satu sen, cocok untuk penggunaan API berfrekuensi tinggi dengan nominal kecil, serta kompatibel dengan standar pembayaran seperti x402.

4️⃣ Privasi: Rekening bank, nomor kartu, dan private key tidak akan terekspos kepada agen atau pedagang.

Kite sudah meluncurkan mainnet tahun ini, dan Passport kini juga mendukung perutean pembayaran di berbagai blockchain.

Aku ingin tahu pendapat kalian: kalau hanya boleh menetapkan satu aturan belanja untuk agen AI kalian, aturan apa yang akan kalian pilih?

Batas anggaran, daftar putih pedagang, atau harus bertanya kepadaku dulu jika jumlahnya melebihi nominal tertentu? Yuk, diskusi di kolom komentar 👇 @KITE AI 中文 #KiteBBW $KITE 🪁