🇨🇳⚖️ ATURAN BARU TIONGKOK SOAL HARTA GONO-GINI: TAK LAGI DIBAGI 50/50? JANGAN TERBURU-BURU! 🏠💰
Klaim yang viral menyebutkan bahwa Tiongkok telah menghapus pembagian harta perkawinan 50/50. Namun, kenyataannya lebih rumit.
Mulai 1 Februari 2025, Tiongkok memberlakukan pedoman peradilan terbaru untuk memperjelas cara pengadilan menangani sengketa harta dalam perceraian.
🏠 Apa yang berubah?
➤ Harta yang dibiayai orang tua: Jika orang tua salah satu pasangan membayar rumah keluarga, pengadilan dapat memberikan rumah tersebut kepada anak mereka, dengan mewajibkan pemberian kompensasi yang wajar kepada pasangan lainnya.
➤ Kontribusi keuangan yang berbeda: Pengadilan dapat mempertimbangkan besarnya kontribusi masing-masing keluarga, tetapi kompensasi tidak serta-merta harus mengikuti persentase kontribusi secara persis.
➤ Harta yang dimiliki sebelum menikah: Mencantumkan nama pasangan pada suatu properti tidak serta-merta menjamin bahwa pasangan tersebut akan mendapat bagian 50% saat bercerai.
➤ Kontribusi nonfinansial juga penting: Pengasuhan anak, tanggung jawab rumah tangga, lamanya pernikahan, dan keadaan masing-masing pasangan juga dapat memengaruhi keputusan pengadilan.
⚖️ Jadi, intinya?
Tiongkok TIDAK menghapus pengakuan atas harta perkawinan yang dimiliki bersama atau memberlakukan aturan menyeluruh bahwa pasangan hanya dapat menuntut harta yang mereka bayar sendiri.
Sebaliknya, pedoman terbaru tersebut memberi pengadilan arahan yang lebih jelas untuk menilai setiap kasus berdasarkan keadaan spesifiknya.
💡Pelajaran penting bagi pemilik properti dan pasangan: Pernikahan melibatkan lebih dari sekadar uang. Kepemilikan properti, kontribusi orang tua, dan tanggung jawab keluarga semuanya dapat memiliki konsekuensi hukum ketika pernikahan berakhir.
❓**Bagaimana menurut Anda? Haruskah harta dalam perceraian dibagi rata, berdasarkan kontribusi keuangan, atau sesuai keadaan masing-masing pasangan?
#OpenHouse #Tiongkok #HukumPerceraian #HakProperti #HukumPerkawinan #InvestasiProperti #RealEstate #HukumKeluarga #PembagianHarta #BeritaHukum #BeritaTiongkok
Klaim yang viral menyebutkan bahwa Tiongkok telah menghapus pembagian harta perkawinan 50/50. Namun, kenyataannya lebih rumit.
Mulai 1 Februari 2025, Tiongkok memberlakukan pedoman peradilan terbaru untuk memperjelas cara pengadilan menangani sengketa harta dalam perceraian.
🏠 Apa yang berubah?
➤ Harta yang dibiayai orang tua: Jika orang tua salah satu pasangan membayar rumah keluarga, pengadilan dapat memberikan rumah tersebut kepada anak mereka, dengan mewajibkan pemberian kompensasi yang wajar kepada pasangan lainnya.
➤ Kontribusi keuangan yang berbeda: Pengadilan dapat mempertimbangkan besarnya kontribusi masing-masing keluarga, tetapi kompensasi tidak serta-merta harus mengikuti persentase kontribusi secara persis.
➤ Harta yang dimiliki sebelum menikah: Mencantumkan nama pasangan pada suatu properti tidak serta-merta menjamin bahwa pasangan tersebut akan mendapat bagian 50% saat bercerai.
➤ Kontribusi nonfinansial juga penting: Pengasuhan anak, tanggung jawab rumah tangga, lamanya pernikahan, dan keadaan masing-masing pasangan juga dapat memengaruhi keputusan pengadilan.
⚖️ Jadi, intinya?
Tiongkok TIDAK menghapus pengakuan atas harta perkawinan yang dimiliki bersama atau memberlakukan aturan menyeluruh bahwa pasangan hanya dapat menuntut harta yang mereka bayar sendiri.
Sebaliknya, pedoman terbaru tersebut memberi pengadilan arahan yang lebih jelas untuk menilai setiap kasus berdasarkan keadaan spesifiknya.
💡Pelajaran penting bagi pemilik properti dan pasangan: Pernikahan melibatkan lebih dari sekadar uang. Kepemilikan properti, kontribusi orang tua, dan tanggung jawab keluarga semuanya dapat memiliki konsekuensi hukum ketika pernikahan berakhir.
❓**Bagaimana menurut Anda? Haruskah harta dalam perceraian dibagi rata, berdasarkan kontribusi keuangan, atau sesuai keadaan masing-masing pasangan?
#OpenHouse #Tiongkok #HukumPerceraian #HakProperti #HukumPerkawinan #InvestasiProperti #RealEstate #HukumKeluarga #PembagianHarta #BeritaHukum #BeritaTiongkok