“Sindrom hari Senin” mengacu pada stres, rasa khawatir, kecemasan, dan ketidakbahagiaan yang mungkin dialami seseorang pada hari kerja pertama dalam seminggu. Setelah menghabiskan akhir pekan dengan melakukan apa yang disukai, datangnya hari Senin—yang menandai dimulainya minggu baru—membawa berbagai tugas, komitmen, ritme kerja yang menuntut, dan tanggung jawab baru, yang semuanya dapat memicu sindrom ini. Meskipun sering disamakan dengan depresi, sindrom hari Senin merupakan kondisi sementara, bukan suatu bentuk depresi; selain itu, kondisi ini tidak memiliki diagnosis klinis yang diakui.

Perlu dicatat bahwa “Monday blues”—yang dialami baik oleh pelajar maupun karyawan—berupa keengganan untuk berangkat kerja atau sekolah, kurangnya motivasi, stres, kecemasan, dan rasa khawatir pada awal minggu, hanyalah kondisi sementara; gejala-gejala ini biasanya mereda atau bahkan menghilang seiring berjalannya minggu.

(SUMBER: Portal psikiatri dan neuropsikiatri. Sesuai dengan pedoman komunitas, nama dan alamat portal tidak dicantumkan; teks ini terdiri dari kutipan yang diambil dari portal terkait.)