#AI Apakah CoreWeave akan menjadi “bom subprime” di industri AI? 🚨⚠️ Kali ini, seruan Jensen Huang saja mungkin tidak cukup

Bos Huang belakangan ini terus menyuntikkan optimisme ke pasar: gejolak yang terjadi sekarang pada akhirnya akan berlalu, AI akan mengubah setiap industri, dan kita masih berada di titik awal.

Namun, yang dikhawatirkan Wall Street bukan lagi “apakah AI berguna”, melainkan: berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk balik modal setelah meminjam begitu banyak uang demi membeli GPU?

Model ekspansi CoreWeave sangat sederhana: membeli GPU, menandatangani kontrak komputasi jangka panjang, lalu menggunakan kontrak dan aset tersebut untuk mendapatkan pendanaan dan membeli lebih banyak GPU. Selama pelanggan membayar tepat waktu dan pendanaan terus mengalir, siklus ini bisa berlanjut.

Masalahnya, jika kekurangan listrik memperlambat pengiriman, pendapatan bisa tertunda, sementara bunga tetap harus dibayar. GPU lama juga akan terdepresiasi seiring perkembangan teknologi. Jika pesanan baru berkurang dan harga perpanjangan kontrak turun, menghasilkan uang dan mendapatkan pinjaman bisa sama-sama makin sulit.

Pendapatan di bawah ekspektasi membuat pinjaman lebih mahal; pinjaman yang lebih mahal membuat pembayaran utang makin sulit. Inilah “spiral kematian” yang dikhawatirkan pasar, bukan sekadar harga saham yang turun selama beberapa hari.

Jensen Huang tentu punya alasan untuk optimistis terhadap AI. Namun, Nvidia bisa meraup untung dengan menjual GPU bukan berarti perusahaan yang membeli GPU juga bisa balik modal.

Kontrak jangka panjang dan permintaan yang berkelanjutan mungkin bisa menopang model ini. Menyimpulkan bahwa ini adalah “krisis subprime” sekarang masih terlalu dini. Namun, untuk menghilangkan keraguan pasar, yang perlu ditunjukkan CoreWeave adalah arus kas, bukan sekadar keyakinan.