$AGT $SIREN $ICNT
Pada tahun 330 SM, Aleksander Agung memasuki Persepolis—jantung Kekaisaran Persia. Emas, permata, istana megah! Harta karun yang dikumpulkan para raja Persia selama beberapa generasi kini terhampar di kaki sang penakluk. Namun, adegan paling dramatis malam itu tidak dimulai di medan perang, melainkan di meja perjamuan.
Aleksander sedang berpesta bersama para panglima dan orang-orang dekatnya ketika Taïs, seorang perempuan Athena, mengusulkan agar istana dibakar sebagai balasan atas pembakaran Athena oleh bangsa Persia. Kata-katanya membakar semangat sang raja. Dikuasai anggur dan euforia, ia menjadi orang pertama yang melompat berdiri, meraih obor, lalu mengajak para tamu perjamuan mengikutinya. Musik, teriakan, tawa mabuk! Orang-orang yang belum lama menaklukkan sebuah kekaisaran dengan pedang kini bergegas menghancurkan harta paling berharga milik kekaisaran itu.
Api dengan rakus melahap balok-balok kayu, kobaran menjulang di atas tiang-tiang, dan percikan api beterbangan ke langit malam. Begitulah, jika kita percaya pada para penulis kuno, ulah di meja perjamuan berubah menjadi bencana bersejarah. Belakangan, menurut beberapa kisah, Aleksander menyesali perbuatannya.
Malam itu, sang penakluk Persia menjadi tawanan gejolak hatinya sendiri.
Pesan moral: jangan biarkan euforia mengendalikan tanganmu. Satu klik impulsif membakar keuntungan lebih cepat daripada istana Persepolis.
Pada tahun 330 SM, Aleksander Agung memasuki Persepolis—jantung Kekaisaran Persia. Emas, permata, istana megah! Harta karun yang dikumpulkan para raja Persia selama beberapa generasi kini terhampar di kaki sang penakluk. Namun, adegan paling dramatis malam itu tidak dimulai di medan perang, melainkan di meja perjamuan.
Aleksander sedang berpesta bersama para panglima dan orang-orang dekatnya ketika Taïs, seorang perempuan Athena, mengusulkan agar istana dibakar sebagai balasan atas pembakaran Athena oleh bangsa Persia. Kata-katanya membakar semangat sang raja. Dikuasai anggur dan euforia, ia menjadi orang pertama yang melompat berdiri, meraih obor, lalu mengajak para tamu perjamuan mengikutinya. Musik, teriakan, tawa mabuk! Orang-orang yang belum lama menaklukkan sebuah kekaisaran dengan pedang kini bergegas menghancurkan harta paling berharga milik kekaisaran itu.
Api dengan rakus melahap balok-balok kayu, kobaran menjulang di atas tiang-tiang, dan percikan api beterbangan ke langit malam. Begitulah, jika kita percaya pada para penulis kuno, ulah di meja perjamuan berubah menjadi bencana bersejarah. Belakangan, menurut beberapa kisah, Aleksander menyesali perbuatannya.
Malam itu, sang penakluk Persia menjadi tawanan gejolak hatinya sendiri.
Pesan moral: jangan biarkan euforia mengendalikan tanganmu. Satu klik impulsif membakar keuntungan lebih cepat daripada istana Persepolis.
