Mitos Bitcoin yang “kebal terhadap suku bunga” runtuh? Korelasi mencetak rekor, tetapi harga malah terpuruk!
Ketika koefisien korelasi Bitcoin dengan imbal hasil riil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun mencetak rekor tertinggi di angka 0,6, banyak orang mengira Bitcoin akhirnya menjadi “aset makro”.

Namun, laporan terbaru Fidelity Digital Assets justru mengungkap pembalikan yang janggal: dalam periode krusial ketika tekanan kredit pada infrastruktur kecerdasan buatan mendorong selisih imbal hasil melebar 25 basis poin, Bitcoin tetap anjlok ke mana pun arah pergerakan imbal hasil—Bitcoin gagal melewati ujian ini.

Apa artinya?
Narasi bahwa Bitcoin merupakan aset yang “kebal terhadap suku bunga” atau “lindung nilai alternatif” mulai terbantahkan oleh kenyataan. Ketika korelasi yang sebelumnya mendekati nol, atau bahkan negatif, tiba-tiba melonjak di atas 0,6, pasar mengira Bitcoin mulai bergerak seiring dengan tekanan fiskal AS dan suku bunga riil. Namun, begitu pengetatan kredit benar-benar terjadi—terutama tekanan pembiayaan akibat belanja modal AI—Bitcoin tetap menunjukkan wataknya sebagai aset berisiko dan ikut jatuh saat likuiditas menyusut.

Datanya jelas: koefisien korelasi mencetak rekor, tetapi harga Bitcoin tidak mengikuti arah imbal hasil. Ini bukan sekadar “korelasi yang gagal”, melainkan pengingat bahwa masih ada jurang besar antara narasi makro Bitcoin dan likuiditas di tingkat mikro.

Yang benar-benar perlu diperhatikan selanjutnya bukan apakah koefisien korelasi akan naik lagi, melainkan apakah Bitcoin akan kembali “gagal memenuhi harapan” saat selisih imbal hasil melebar pada kesempatan berikutnya.#比特币 #利率