$ICNT $AGT $SIREN
Hukum Hammurabi adalah salah satu kitab hukum tertua dan paling keras di dunia. Kini, beberapa bagiannya tampak absurd, tetapi di Babilonia, hukum ini merupakan sistem ketertiban yang dibangun di atas tanggung jawab ketat dan rasa takut akan hukuman.
Prinsip utamanya adalah «mata ganti mata». Jika seseorang mencungkil mata orang lain, matanya akan dicungkil; jika ia mematahkan tulang orang lain, tulangnya akan dipatahkan. Hampir tidak ada ganti rugi—yang ada hanyalah pembalasan setimpal.
Tanggung jawab kolektif sangat mengejutkan: jika sebuah rumah runtuh dan menewaskan putra pemiliknya, putra sang pembangun akan dihukum mati. Kesalahan seorang tukang bisa berubah menjadi tragedi bagi keluarganya.
Kesalahan medis juga dihukum dengan kejam: jika pasien meninggal setelah diobati, tangan dokter bisa dipotong. Pengobatan benar-benar menjadi pertaruhan nyawa.
Untuk penipuan dalam usaha minuman—mengencerkan bir dengan air—pemilik kedai bisa ditenggelamkan. Bahkan kecurangan kecil dianggap sebagai kejahatan terhadap ketertiban.
Seorang budak yang berani berkata «kau bukan tuanku» akan kehilangan telinganya—kekuasaan ditegaskan secara fisik. Pencurian dari kuil atau istana hampir selalu berarti hukuman mati.
Hukum-hukum ini tampak kejam dan tidak masuk akal, tetapi bagi Babilonia kuno, inilah cara untuk mengendalikan masyarakat, tempat setiap kesalahan bisa berakibat fatal.
Hukum Hammurabi adalah salah satu kitab hukum tertua dan paling keras di dunia. Kini, beberapa bagiannya tampak absurd, tetapi di Babilonia, hukum ini merupakan sistem ketertiban yang dibangun di atas tanggung jawab ketat dan rasa takut akan hukuman.
Prinsip utamanya adalah «mata ganti mata». Jika seseorang mencungkil mata orang lain, matanya akan dicungkil; jika ia mematahkan tulang orang lain, tulangnya akan dipatahkan. Hampir tidak ada ganti rugi—yang ada hanyalah pembalasan setimpal.
Tanggung jawab kolektif sangat mengejutkan: jika sebuah rumah runtuh dan menewaskan putra pemiliknya, putra sang pembangun akan dihukum mati. Kesalahan seorang tukang bisa berubah menjadi tragedi bagi keluarganya.
Kesalahan medis juga dihukum dengan kejam: jika pasien meninggal setelah diobati, tangan dokter bisa dipotong. Pengobatan benar-benar menjadi pertaruhan nyawa.
Untuk penipuan dalam usaha minuman—mengencerkan bir dengan air—pemilik kedai bisa ditenggelamkan. Bahkan kecurangan kecil dianggap sebagai kejahatan terhadap ketertiban.
Seorang budak yang berani berkata «kau bukan tuanku» akan kehilangan telinganya—kekuasaan ditegaskan secara fisik. Pencurian dari kuil atau istana hampir selalu berarti hukuman mati.
Hukum-hukum ini tampak kejam dan tidak masuk akal, tetapi bagi Babilonia kuno, inilah cara untuk mengendalikan masyarakat, tempat setiap kesalahan bisa berakibat fatal.
