Timur Tengah kembali membara. Serangan Iran terhadap kapal tanker minyak di Selat Hormuz meningkat, minyak mentah Brent langsung menyentuh 110 dolar AS per barel, minyak AS juga menembus 100 dolar, dan Ukraina bahkan mengancam akan menyerang kilang minyak Rusia. Jalur energi benar-benar berada dalam tekanan.

Lonjakan harga minyak seperti ini paling langsung memicu kenaikan ekspektasi inflasi. Dari Federal Reserve juga terdengar nada hawkish. Bulan ini, mereka bahkan menyatakan bahwa "kenaikan suku bunga lagi tidak dikesampingkan"—yang berarti menjadi kabar buruk bagi aset berisiko.

Namun, bagi pasar kripto, ini bukan semata-mata kabar buruk. Harga minyak melonjak → inflasi meningkat → daya beli mata uang fiat tergerus. Situasi ini justru bisa mendorong sebagian dana beralih ke aset keras seperti BTC. Saat ini BTC bergerak mendatar di sekitar 81.000 dolar AS, ETH di 2.458, dan SOL di 105—hampir tidak ikut turun. Ini menunjukkan bahwa pasar mulai memandang Bitcoin sebagai aset lindung nilai, bukan ikut anjlok bersama aset berisiko.

Penilaian saya jelas: jangan berharap semua aset naik dalam waktu dekat. Volatilitas akan meningkat, tetapi narasi BTC sebagai "emas digital" akan semakin kuat akibat konflik geopolitik seperti ini. Kalau benar terkoreksi, justru itu peluang. Jangan jual rugi karena panik.