Catatan pesanan makanan adalah bentuk perlawanan terakhir para pekerja zaman sekarang.
Aku iseng melihat-lihat riwayat pesanan makananku, lalu sadar kolom catatan sudah lama tak lagi berisi sekadar “catatan”. Isinya malah tulisan panjang:
1. Setelah “pedas sedikit”, langsung disusul “cabainya yang banyak” — pedas sedikit itu untuk lambung, cabai yang banyak itu untuk jiwa
2. “Nasinya sedikit saja,” lalu “tambah satu porsi nasi” — kalori yang dikurangi, kebahagiaan yang ditambahkan lagi
3. “Jangan pakai daun ketumbar!!!” Tiga tanda seru — orang ini pasti punya cerita
4. “Taruh di depan pintu, ketuk tiga kali, jangan telepon” — kode Morse para penyandang kecemasan sosial
5. “Tolong gambarkan wajah tersenyum” — romantisme orang dewasa memang sederhana dan apa adanya; biasanya penjual benar-benar menggambarnya
Serius, kolom catatan sudah lama bukan lagi kolom catatan. Ia adalah tempat curhat para pekerja di tengah malam. Permintaan yang tak berani disampaikan saat rapat siang hari, obsesi terhadap sesuap makanan, sedikit rasa kendali yang tersisa atas hidup—semuanya ditumpahkan ke dalam beberapa puluh karakter ini. Kemungkinan besar kurirnya bahkan tak membaca, tetapi orang yang menulisnya sudah berdamai dengan dirinya sendiri: aku tak bisa menentukan hal-hal besar dalam hidup, tapi soal berapa sendok cabai di makananku, jangan harap orang lain yang memutuskannya untukku.
Apa catatan pesanan makanan paling absurd yang pernah kamu tulis?
Sumber: dirangkum dari pengamatan kehidupan sehari-hari orisinal
#SastraCatatanPesananMakanan
Aku iseng melihat-lihat riwayat pesanan makananku, lalu sadar kolom catatan sudah lama tak lagi berisi sekadar “catatan”. Isinya malah tulisan panjang:
1. Setelah “pedas sedikit”, langsung disusul “cabainya yang banyak” — pedas sedikit itu untuk lambung, cabai yang banyak itu untuk jiwa
2. “Nasinya sedikit saja,” lalu “tambah satu porsi nasi” — kalori yang dikurangi, kebahagiaan yang ditambahkan lagi
3. “Jangan pakai daun ketumbar!!!” Tiga tanda seru — orang ini pasti punya cerita
4. “Taruh di depan pintu, ketuk tiga kali, jangan telepon” — kode Morse para penyandang kecemasan sosial
5. “Tolong gambarkan wajah tersenyum” — romantisme orang dewasa memang sederhana dan apa adanya; biasanya penjual benar-benar menggambarnya
Serius, kolom catatan sudah lama bukan lagi kolom catatan. Ia adalah tempat curhat para pekerja di tengah malam. Permintaan yang tak berani disampaikan saat rapat siang hari, obsesi terhadap sesuap makanan, sedikit rasa kendali yang tersisa atas hidup—semuanya ditumpahkan ke dalam beberapa puluh karakter ini. Kemungkinan besar kurirnya bahkan tak membaca, tetapi orang yang menulisnya sudah berdamai dengan dirinya sendiri: aku tak bisa menentukan hal-hal besar dalam hidup, tapi soal berapa sendok cabai di makananku, jangan harap orang lain yang memutuskannya untukku.
Apa catatan pesanan makanan paling absurd yang pernah kamu tulis?
Sumber: dirangkum dari pengamatan kehidupan sehari-hari orisinal
#SastraCatatanPesananMakanan