Hari ini saat memantau pasar, $NEAR anjlok 6,5% dalam sehari. Banyak yang mulai bertanya kepadaku: perlu cut loss?

Aku mau cerita tentang pola tiga pukulan yang paling sering kulihat bikin orang rugi—

Pukulan pertama: ngotot bertahan dan tidak mau cut loss
Turun 10%, berpikir harganya akan naik lagi. Ternyata malah turun sampai 20%.

Pukulan kedua: cut loss di titik terendah
Turun sampai tak kuat menahan lagi, akhirnya rela cut loss. Eh, baru saja dijual, harganya langsung memantul.
Timing-nya tepat sekali, seolah-olah bandar yang memilihkannya untukmu.

Pukulan ketiga: masuk lagi di harga tinggi
Ketinggalan kereta, panik, lalu mengejar kenaikan dan beli lagi. Setelah itu harga kembali terkoreksi.

Ini bukan nasib buruk. Ini reaksi standar otak manusia saat mekanisme menghindari rasa sakit bekerja.
Rasa sakit akibat rugi 2,5 kali lebih kuat daripada rasa senang saat untung. Dalam ekonomi perilaku, ini disebut loss aversion.
Itulah sebabnya kamu bertahan dan tidak mau cut loss, karena begitu dijual, kerugiannya jadi nyata.
Saat harga memantul, kamu malah FOMO dan ikut masuk lagi. Otak menganggap ketinggalan kesempatan untuk kedua kalinya sebagai ancaman.

Bagaimana mengatasinya?

Pertama, tentukan batas cut loss sebelum masuk. Kalau harga menyentuh batas itu, jalankan secara mekanis. Jangan biarkan emosi ikut mengambil keputusan.
Kedua, saat harga naik, tanyakan kepada diri sendiri: kalau belum punya posisi, apakah aku tetap akan membeli? Kalau tidak, kurangi posisi.
Ketiga, saat seluruh pasar menghijau, bukan waktunya kabur, melainkan mencari koin yang kuat.

Hari ini, $SEI justru naik 3,3% saat pasar melemah. Pasar bukan berarti semuanya mati; ada aliran dana yang bergerak.

Kamu tipe trader yang mana?
A. Tipe yang ngotot bertahan
B. Tipe yang cut loss lalu mengejar harga tinggi
C. Aku sudah pasrah

Pilih di kolom komentar. Aku mau lihat tipe mana yang paling banyak.