Bayangkan seorang ibu yang murka memarahi putrinya dengan kasar, menyebutnya anak ceroboh yang bisa mengoceh sepanjang hari, tetapi tidak menggunakan otaknya. Skenario ini menggambarkan betapa seringnya orang tua berinteraksi dengan anak-anak mereka melalui apa yang dikenal sebagai zona ekspektasi yang ditingkatkan, disingkat ZHE.

Pendekatan ini menuntut jauh lebih banyak dari anak-anak daripada yang mampu mereka lakukan sesuai tahap perkembangannya. Akibatnya, ketika seorang anak melakukan kesalahan sederhana, ia dimarahi habis-habisan. Kehilangan barang sekolah sehari-hari sering kali membuat anak itu dipermalukan dan diserang secara verbal. Penting untuk diingat bahwa yang kita bicarakan adalah anak-anak yang masih dalam masa perkembangan.

Masalah yang lebih mendalam di sini adalah bahwa membesarkan anak dalam zona ekspektasi yang ditingkatkan ini menjadi pola trauma antargenerasi. Orang-orang yang tumbuh dengan tuntutan ekstrem seperti ini cenderung meneruskan standar yang sama persis kepada anak-anak mereka. Jika kamu pernah dipermalukan karena kesalahan yang lazim dilakukan anak-anak atau hanya karena bertingkah sesuai usiamu, kemungkinan besar kamu akan mempermalukan anak-anakmu sendiri karena kesalahan serupa.

Anak-anak tidak pernah sengaja berniat membuat kesalahan, dan mereka juga tidak dengan sengaja bertingkah laku yang mengundang omelan keras. Anak-anak hanya akan bertingkah sesuai usia mereka. Mereka pasti akan kehilangan barang, memecahkan benda, dan membuat kekacauan berulang kali. Yang benar-benar mereka butuhkan adalah bimbingan dan empati, bukan serangan verbal atau hukuman fisik.

Anak mana pun seharusnya tidak perlu menjadi tempat pelampiasan emosi orang dewasa yang tidak mampu mengelola perasaan mereka sendiri. Anak-anak membutuhkan dukungan dan pengertian, bukan luapan amarah yang agresif.

Aku sungguh berharap kamu mendapatkan dukungan yang kamu cari. Aku sepenuhnya mendukungmu.

Adeh jones