Musim semi berlalu, bunga tetap mekar; manusia datang, burung tak terusik. Setelah lama berkecimpung dalam trading kripto, rasanya perlahan-lahan aku berubah. Tak ada lagi yang menarik minatku. Setiap hari yang kupikirkan hanya membuka Binance dan sesekali mengecek harganya, meski tahu dalam jangka pendek tak akan banyak bergerak. Mungkin karena sekarang usiaku sudah segini: tak punya banyak teman, belum menikah, dan tak ingin bepergian. Ke mana pun pergi rasanya tak ada artinya. Aku juga cukup kesepian. Bohong kalau kubilang tak tertarik melihat gadis-gadis muda yang cantik, tapi... apa hubungannya denganku? Itu hanya mengganggu keteguhan hatiku. Menonton serial juga tak menarik, semuanya terasa sama. Belakangan ini aku bahkan tak ingin menghadiri banyak acara kumpul-kumpul. Singkatnya, energi kita perlahan terbatas. Kita semua sedang bersiap menghadapi sebuah pertarungan—pertarungan yang harus kita menangkan. Kita fokus di pasar kripto, dan perlahan-lahan makin sering mengurung diri, makin sedikit teman. Tapi aku tak merasa kesepian. Aku semakin menyukai pasar kripto. Di sinilah terasa nyata; rasanya seperti dunia permainan, obat untuk kesepian batin, penawar bagi jiwa. Banyak orang tak bisa berhenti karena menyukai perasaan ini. Terlalu larut bisa merusak kesehatan, jadi nikmati secukupnya. Pasar ini relatif adil. Tak perlu mengandalkan koneksi, tak perlu saling menipu atau berebut pengaruh. Kalau punya kemampuan, kita bisa menunjukkannya. Tak ada bakat yang akan terkubur begitu saja. Saat ini aku belum bersinar, jadi masih harus terus mengembangkan diri. Bagiku, kripto bukan perjudian, meski di mata orang luar aku mungkin hanya terlihat seperti penjudi. Aku hanya ingin mengeluarkan uang untuk sesuatu yang kusukai. Aku rela menginvestasikan uang dan tenagaku di pasar ini. Di sinilah tempatku menambatkan hati. Mungkin aku seorang pejuang yang bertarung sendirian. Ini jalan yang sulit ditempuh. Tapi jangan sampai menguras uang terlalu berlebihan di pasar ini, dan jangan pula menaruh harapan terlalu tinggi. Teruslah melangkah, selangkah demi selangkah.
