Harga Minyak dan CPI

Masalah sebenarnya sekarang bukan hanya CPI yang tinggi, tetapi inflasi yang mulai menyebar dari sektor energi ke sektor produksi dan jasa.

Selama perang terus berlangsung, risiko terhadap kilang Rusia, fasilitas minyak mentah di Teluk, dan pelayaran tetap ada. Harga minyak, solar, ongkos pengiriman, dan biaya asuransi pun akan terdorong naik.
Biaya-biaya ini mula-mula masuk ke PPI, lalu perlahan diteruskan ke harga barang dan jasa, dan pada akhirnya membuat CPI lebih sulit turun.

Jadi, rantai utama saat ini adalah:

Perang/risiko energi → harga minyak dan biaya transportasi naik → tekanan menyebar ke PPI → CPI makin sulit turun dengan cepat → suku bunga tinggi The Fed bertahan lebih lama → valuasi aset berisiko terus tertekan.

The Fed dapat menekan permintaan, tetapi tidak bisa begitu saja menambah pasokan minyak mentah, memperbaiki kilang, atau menurunkan biaya asuransi pelayaran.
Jika pasokan terus terganggu, kenaikan suku bunga saja hanya dapat mengimbangi inflasi dengan menekan konsumsi dan investasi. Dampaknya, ekonomi dan harga aset sama-sama tertekan.

Karena itu, saat ini kita tidak bisa hanya terpaku pada apakah CPI dalam satu rilis tertentu lebih tinggi atau lebih rendah 0,1.

Yang benar-benar perlu diperhatikan adalah:

Apakah inflasi telah berubah dari “masalah energi” menjadi “masalah biaya di seluruh rantai pasok”.

Jika jawabannya “ya”, aset berisiko bukan hanya menghadapi guncangan data sesaat, tetapi juga lingkungan suku bunga tinggi yang berlangsung lebih lama.