Jangan buru-buru panik dan menjual saat harga anjlok! “Distribusi biaya” on-chain bisa memberitahumu kapan harus panik dan kapan tetap tenang
Teman-teman, pernah mengalami hal seperti ini? Begitu Bitcoin turun, di forum ramai yang bilang, “Cepat kabur!” dan “Harganya bakal jatuh sampai nol!” Kamu pun ikut panik, lalu karena gugup menjualnya tepat di titik terendah. Eh, baru saja dijual, harganya malah langsung merangkak naik lagi. Rasanya sampai ingin membanting ponsel. Jangan buru-buru menyalahkan diri sendiri karena gegabah. Hari ini kita akan membahas satu pendekatan yang juga diperhatikan institusi dan para pemain lama di dunia on-chain: distribusi biaya on-chain. Kalau kamu memahaminya, kamu akan tahu kapan harus panik dan kapan justru perlu tetap tenang. Inilah pola pikir lain yang perlu tertanam di benak: “institusi menampung, investor ritel tersingkir.”
Mari mulai dari prinsip sederhana. Setiap koin Bitcoin memiliki “harga transaksi terakhir”, yaitu harga saat koin tersebut berpindah ke tanganmu—dengan kata lain, biaya perolehannya. Jika biaya semua koin dirata-ratakan, kita mendapatkan “harga terealisasi” (realized price)—yang bisa dipahami sebagai harga rata-rata beli semua pemegang Bitcoin di pasar. Ibarat saham, kita perlu tahu kira-kira di level mana rata-rata biaya kepemilikan para investor berada.[1]